Category: Opini

  • Pemerintah Harus Seriusi Masalah Jaminan Sosial Kesehatan

    test.petasulut.com/, SULUT –
    Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan BPJS Kesehatan diharapkan bisa bekerjasama dalam hal memberikan jaminan sosial kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Hal tersebut ditekankan Briliant Maengko seorang aktivis kepemudaan yang ada di Kota Manado.

    Dirinya menguraikan bahwa undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sudah jelas mengamanatkan bahwa setiap warga negara Indonesia (WNI) wajib mengikuti program BPJS.

    “Saya pikir pemerintah daerah kota kabupaten provinsi perlu bekerja sama dengan BPJS Kesehatan yang ada di Kota Manado dan (Sulawesi Utara). Perlunya integrasi data, data dukcapil contohnya kita ada berapa penduduk, data BPJS Kesehatan sudah berapa banyak penduduk yang terdaftar menjadi peserta BPJS Kesehatan dan belum. Untuk yang belum menjadi peserta bisa dicek apakah warga kurang mampu atau memang belum mendaftar, dan pastikan agar segera didaftarkan (khususnya bagi yang kurang mampu) sehingga ketika ada hal-hal yang tidak kita inginkan bersama terjadi sehingga masuk dan dirawat dirumah sakit maka penduduk yang ada di Kota Manado/ Sulawesi Utara ini sudah menjadi peserta BPJS Kesehatan dan bisa dijamin oleh BPJS Kesehatan,” Tegasnya.Brilliant Maengko

    Lanjut dijabarkan Maengko bahwa integrasi data tersebut adalah hal yang mudah dan bisa dilakukan oleh pemerintah. Dirinya pun menyarankan untuk melakukan rekonsiliasi data yang ada di BPJS dan pemerintah untuk mencapai kesejeahteraan jaminan sosial kesehatan tersebut.

    “Sederhana saja, rekonsiliasi data Peserta dari BPJS Kesehatan dan data dukcapil ataupun bisa lebih mengerucut ke kelurahan atau lingkungan kumpul data-data penduduk yang belum ada jaminan sosial,” Imbuhnya.

    “Depe turunan seperti apa diatur terkait Jamkesda dsb itu kurang masing-masing daerah melihat depe warga yang kurang mampu utk didaftarkan,” Tambahnya.

    Dirinya pun menjelaskan bahwa hal ini perlu diseriusi pemerintah karena melihat masih banyaknya pasien yang masuk rumah sakit dan tidak mempunyai jaminan kesehatan.

    “Lebih anehnya lagi relawan yang membantu bukan pemerintah. Relawan membantu memberikan pendampingan ke dinsos dan menghadap management Rumah Sakit bahkan ada yang patungan membayar sebagian biaya. Ini perlu diseriusi agar supaya pemerintah dinilai bisa hadir bagi masyarakat,” Ungkap Maengko. (FalenJaksen)

  • Semboyan “Si Tou Timou Tumou Tou” Tidak Berlaku Lagi, Simak Penjelasannya

    Oleh : DR Jerry Massie PhD (Direktur Political and Public Policy Studies).

    Dewasa ini, agak sulit mewujudkan dan mengaplikasikan semboyan populer tou Kawanua yakni : “Si Tou Timou Tumou Tou” yang digagas tokoh Kawanua di era kemerdekaan yakni Gubernur pertama Sulawesi DR GSSJ Sam Ratulangi.

    Dalam kacamata saya, istilah ini sudah pupus, pudar bahkan mati alias so nyanda berlaku lagi.

    Zaman orde baru tokoh dan pejabat dari Bumi Nyiur melambai masih disegani dan diperhitungkan.

    Pasalnya, masih ada orang Sulut yang mengisi posisi kabinet yakni menteri Perumahan Theo Sambuaga dan Haryono Isman. Justru berbalik dengan era Megawati dan Gus Dur bahkan Jokowi tak ada lagi Menteri asal Sulut yang duduk di kabinet. Sedangkan zaman SBY masih ada nama Mayjen TNI (Purn) EE Mangindaan.

    Di kabinet Jokowi hanya ada figur dari Sulut yang duduk yakni Jerry Sambuaga, Sambuaga sebagai Wamen Perdagangan.

    Barangkali puncak keemasan ‘Tou Kawanua’ disaat Soekarno menjabat Presiden. Bayangkan dalam periodisasi Soekarno sampai turun dari jabatannya sebagai presiden, tokoh Sulut mendominasi kabinet dengan 9 orang Menteri. Mulai menteri keuangan ke-3 Mr AA Maramis sampai 3 kali duduk di kabinet Jan Daniel Massie.

    Jadi, era Soekarno orang Manado sangat disegani dan ditakuti. Bayangkan zaman itu kita memiliki 4 wewene (perempuan tangguh).

    Sebut saja, Walikota wanita pertama di Indonesia yakni, perempuan asal Sulut Agustine Magdalena Waworuntu yang memimpin Manado sejak akhir 1949 namun baru diresmikan pada Maret 1950.

    Wanita Kelahiran 4 Juni 1899 ini karib dipanggil Tiene ini menjadi walikota melalui sebuah pemilihan umum (terbatas).

    Selain walikota ternyata Dokter perempuan pertama di Indonesia juga berasal dari Sulut. Marie Thomas, namanya. Marie Thomas lahir di Likupang, Minahasa, Sulawesi Utara pada 17 Februari 1896 dari pasangan Adriaan Thomas dan Nicolina Maramis. Ayahnya adalah seorang tentara, sehingga kerap berpindah – pindah dari satu kota ke kota yang lainnya.

    Sedangkan Brigjen Pol Jeane Mandagi tercatat menjadi Brigadir Jenderal (Brigjen) pada tahun 1991. Dia menjadi wanita pertama di Indonesia yang menyandang pangkat jenderal di tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kepolisian Republik Indonesia (Polri) kini memiliki beberapa Polisi Wanita (Polwan) bergelar jenderal.

    Sedangkan Sarjana Hukum Pertama Indonesia Prof Annie- Abas Manopo dan juga pernah menjabat Rektor USU Sumut

    Era Soekarno budaya baku tongka, baku angka dan baku topang masih menjadi slogan. Apalagi saling baku bantu diperantauan. Tapi saat ini Minahasa tak kenal lagi istilah dari Dr. Sam Ratulangi ini. Pasalnya kita hanya bermain single figther bukan double figther

    Padahal kita punya orang-orang yang duduk diposisi penting tapi enggan membantu sesama Manado. Kita kalah sama suku Batak dan Bugis yang menguasai Kementerian Hukum dan HAM, Perhubungan sampai BUMN dan juga orang Maluku Utara yang mendominasi Kementerian Dalam Negeri.

    Alasan utamanya ada istilah : “Makang Puji, pandang enteng atau orang Betawi menyebutnya ‘Belagu’ dan juga ego tinggi, serta ada istilah : ‘Nemau orang laeng berhasil dia suka dia sa sandiri jo yang sukses’.

    Ini terjadi saat ini tapi di kepolisian masih ada orang-orang Kawanua yang peduli terhadap sesama kawanua. Tapi ada sampai dirinya retired (pensiun) tak ada satupun keluarga dan kerabatnya yang diangkat entah itu di SPN, Akpol atau saat dia menjadi Kapolda merekrut orang Manado sebagai ajudan.

    Saya kenal hanya berapa nama yang masih peduli, yang lainnya hanya lamu bahasa keren Zaman Now.

    Luar biasanya para tokoh Minahasa di era Soekarno lantaran menteri paling banyak di era orde lama ini.

    1. Mr Alex Maramis – Menteri Keuangan dan Menteri Luar Negeri
    2. Ir Herling Laoh – Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perhubungan
    3. Mr Arnold Mononutu – Menteri Penerangan
    4. Gustaaf Maengkom – Menteri Kehakiman
    5. F F Nyong Umbas – Menteri Muda Perekonomian
    6. Frits H Laoh – Menteri Perhubungan
    Drs Wim J Rumambi – Menteri Penghubung MPR/DPR/DPA dan  Menteri Penerangan
    8. Hans A Pandelaki – Menteri Keuangan Urusan Anggaran
    9. Jan D Massie – Menteri Urusan Penertiban Bank & Modal Swasta di kabinet Kerja IV.

    Belum lagi ada diplomat terbaik tanah air yakni LN Palar.
    Beliau menjadi utusan Indonesia di PBB. Dunia tahu Indonesia berkat peran Palar.

    Sementara saat ini sangat sulit kita bersaing. Kalau sudah di posisi atas sulit mengangkat sesama Kawanua. Terakhir dua nama yang turun jabatannya yakni Dirjen Imigrasi Ronny Sompie dan Jamintel Yan Maringka.

    Kini kita ada nama-nama seperti Dirjen Kementerian Kesehatan Maxi Rondonuwu dan juga Deputi Bidang Hukum Kementerian BUMN Irjen Pol Carlo Tewu.

    Setidaknya jika ingin melihat Tou Kawanua menguasai panggung Nusantara maka ‘saling baku angka bukan baku sekop’. Saya paling tidak suka dengan istilah monohok ‘Manado’ = (Menang Nampang Doang), tapi itulah orang luar memandang kita.

    Dengan kata lain, saat posisi anda di atas maka angkatlah putra daerah terbaik jangan hanya kita yang diatas. Pentingnya ada kaderisasi. Contoh orang Bali di Sulut saat mereka memegang jabatan Kapolres mereka memanggil putra-putra daerahnya.

    Saya pernah mendengar pada era 70-an orang Manado diperantaun masih baku bantu. Sebagai contoh mendiang Alm. Jorry Suwu dan Bernath Tasik di Tanjung Priok, Jakarta Utara masih membantu Tou Kawanua khususnya Langowan kala itu saat merantau ke ibukota Metropolitan Jakarta. Mereka masih menjunjung tinggi budaya “Si Tou Timou Tumou Tou: yakni dengan memberikan penginapan bahkan pekerjaan di Pelabuhan Tanjung Priok. Lantaran Mendiang Jorry merupakan kepala pelabuhan.

    Sama persis dilakukan Sir Alex Lolowang di New York AS. Pada dekade 70-80-an banyak membantu orang Kawanua di Amerika.

    Justru, yang membuat saya bingung slogan kita diadopsi daerah lain dan berhasil.

    Jadi, jika falsafah ini torang kedepankan maka kita percaya torang samua akan dikagumi dan disegani di ibukota. Dan torang samua bisa menepis sejumlah isu miring yang dialamatkan buat orang Manado.

    Menurut saya, jika kita merawat budaya leluhur dan juga falsafah bahkan semboyan yang ditanamkan DR Sam Ratulangi, ini maka saya yakin orang Sulut akan mampu bersaing di nasional bahkan dunia.

    Mengapa daerah lain bisa melakukan ini dan kita tidak bisa. Presentase yang menggunakan ideologi Sam Ratulangi ada tapi relatif kecil.

  • Psikolog Dan Tokoh Muda Beri Pandangan Soal Kasus Paman Cabuli Ponakan di Bolsel

    test.petasulut.com/, SULUT – Terkait dengan kasus yang menimpah seorang bocah inisial IP (10) di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara (Sulut).

    Dimana, bocah tersebut menjadi korban pencabulan atas pamannya sendiri yang berinisial MP (42).

    Yang lebih tragisnya lagi, Tersangka melakukan aksi cabulnya berkali-kali disaat orang tua korban ke luar untuk kerja.

    Namun, tersangka MP diketahui telah diamankan pihak kepolisian guna meminta keterangan lebih lanjut.

    Menanggapi kasus bejat ini, Psikolog Hanna Monareh, M.Psi mengatakan bahwa Pelaku kekerasan seksual adalah orang-orang terdekat.

    “Sebagai keluarga tidak jarang juga pelaku sering memanfaatkan anak-anak dengan ketidakberdayaan anak. Di beberapa kasus, pelaku juga biasanya membujuk anak, misalnya dengan memberikan uang. Berulang – ulang kali, seringkali korban mendapatkan pengacaman dari pelaku. Hal ini yang membuatnya takut, tidak mampu terbuka dan menyampaikan pada orang lain. Anak yang menjadi korban kekerasan seksual rentan menimbulkan dampak psikologis. Mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kedepannya,” jelas Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia Wilayah Sulawesi Utara, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/5).

    “Untuk mengetahui dampak psikologis seperti : depresi, trauma dan masalah psikologis lainnya adalah dengan pemeriksaan psikologis. Pemeriksaan psikologis diharapkan dapat membantu untuk melengkapi kelengkapan pemeriksaan dari pihak kepolisian,” tambah Hanna.

    Di tempat berbeda, Tokoh Pemuda Sulut, I wayan putra jaya S, Psi ikut angkat suara. Dirinya mengatakan bahwa hal semacam ini perlu juga mendapat perhatian yang serius dari pemerintah daerah, melalui dinas terkait seperti dinas P3A.

    “Karena ini masalah yang sangat serius, pelaku kejahatan seperti ini boleh di katakan sebagai Predator anak atau kejahatan seksual terhadap anak. karena pelaku telah merusak masa depan anak bangsa,” tegas Alumni Psikologi Ukit Tomohon itu.

    “Karena itu, pelaku kekerasan terhadap anak ini sewajibnya mendapat hukuman yang setimpal, apalagi sudah di tandatangani peraturan pemerintah Nomor 70 tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri atau suntik kimia bisa membuat efek jerah,” sambungnya.

    (ABL)

  • Robby Walalangi: Situasi Nasional Saat Ini ‘Kurang Sehat’

    test.petasulut.com/, SULUT – Sektor ketahanan pangan, stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai mengkuatirkan.

    Ini bagian grand design and master plan di era Soeharto yang dikenal dengan “Trilogi” pembangunan.

    Bahkan saat ini ekonomi Indonesia tak bergeming tetap stagnan. Kondisi bangsa yang carut marut, yang mana pertumbuhan ekonomi tak sesuai harapan menurut catatan BPS pada Mei hanya 0,74 persen jauh dari target 4,5 – 5 persen.

    Menyikapi hal itu Ketua Dewan Pakar Barmas Prof Robby Walalangi melihat situasi nasional sudah tidak sehat lagi.

    Faktor mendasar menurut Ketua Yayasan STIE ‘Pioneer’ Manado ini, kemiskinan adalah penyebabnya bahkan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) sudah merupakan virus nasional.

    Lebih parah lagi kata dia, virus corona yang tidak mampu ditanggulangi lagi.

    Robby pun mempertanyakan kinerja menteri terkait untuk memperbaiki kondisi bangsa.

    “Yang menjadi evaluasi rakyat sebagai Pemilik/Penguasa Negeri tercinta ini. Saya bersama Ketum Barmas TW Decky Maengkom dan beberapa pimpinan teras akan bertemu Menhan Prabowo untuk mendiskusikan terkait adanya ancaman ketahanan nasional yaitu “Kemiskinan sebagai Ampera’ yang tidak bisa teratasi oleh Menko Perekomomian,” jelasnya, Senin (17/5).

    Sejauh ini dia menilai, sudah ada kesenjangan Politik antar sesama wadah rakyat yaitu MPR DPR/D DPD disatu pihak dan Ormas/Parpol dipihak lain, khusus dalam hal Hak Budgeting pada APBN/APBD.

    Sementara Robby menuturkan, ormas sebagai wadah rakyat sesuai sistem ketatanegaraan RI berdasar sila ke-4 Pancasila memiliki kedudukan yang sama dengan MPR/DPR/DPD. Dan juga sama persis dengan DPR  punya hak budgeting yang sama pada APBN/APBD akan kami pertanyakan pada pihak terkait,” ucap Robby.

    (ABL)

  • Transformasi Intelektual Dan Moral: Sebuah Tantangan Pendidikan.

    Pandemi telah setahun lebih melanda dunia. Hantaman pandemi termasuk menghantam dunia pendidikan. Pendidikan adalah sektor penting yang, atas cara tertentu, tidak bisa diabaikan.

    Namun demikian, kendati pendidikan telah dihantam badai pandemi yang juga menyebabkan pembelajaran terkendala dan terbatas, pendidikan harus terus berjalan.

    Dengan model pembelajaran ber-platform online, membuktikan pendidikan tetap berjalan. Walaupun tidak ada jaminan bahwa hal itu akan membantu para guru dan para siswa dalam menjalankan pendidikan dan pembelajaran itu, pendidikan tetap harus berjalan.

    Harus diakui, bahwa agak sulit memastikan bahwa proses pembelajaran memang berjalan sebagaimana mestinya, dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, tapi pendidikan harus tetap merupakan proses transformasi intelektual dan moral.

    Maka berkaitan dengan pendidikan yang dimaksud,sekurang-kurangnya dapat disebutkan di sini, pandangan seorang Filsuf Kanada, Bernard Lonergen (1922-1984), tentang pendidikan.

    Menurutnya, pendidikan adalah revitalisasi belajar yang berkesinambungan mengenai kehidupan.

    Pendidikan yang dimaksudkan Lonergen ini mencakup dua hal: Pertama, transformasi intelektual, yaitu transformasi dari mitos kognitif, bahwa mengetahui itu adalah melihat objek, yang didorong oleh keinginan untuk mengetahui, dan mengetahui itu mencakup mengalami, memahami dan menilai objek.

    Jadi, dengan pendidikan, manusia bertransformasi lewat mengalami, memahami dan menilai objek itu (dalam konteks tulisan ini, yakni kebudayaan).

    Kedua, transformasi moral, yaitu perubahan kriteria pengambilan keputusan, dari kriteria apa yang memuaskan diriku, kepada kriteria berdasarkan nilai-nilai.

    (Sastrapratedja, 2013: 317). Pendidikan pada prinsipnya adalah sarana menyampaikan apa artinya menjadi manusia.

    Pendidikan yang sesunggguhnya dan sebetul-betulnya, adalah mampu menyesuaikan diri bukan hanya dengan tradisi, tetapi juga dengan akal budinya itu, kemudian manusia mampu menganalisa, dan mengkritisi perkembangan demi sebuah perkembangan yang sesungguhnya juga.

    Hal ini turut pula menegaskan tentang cara membenahi kebudayaan dan cara pandang tentang kebudayaan.

    Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa pendidikan kini agak sulit untuk dijalankan, bagaimana kita bisa menjamin bahwa proses transformasi intelektual dan transformasi moral itu berjalan, sebagaimana dimaksudkan Lonergen?.

    Berbagai kreativitas guru dalam mengajar selama pandemi dengan pembelajaran model online/virtual, tentu harus menjadi yang utama. Penulis mengamati, bahwa para guru-pengajar telah berupaya dengan kreativitasnya berbagai model atau cara mengajar lewat layar laptop atau pun handphone.

    Dari model ini, bisa dipastikan, siswa atau objek yang diajari, tidak maksimal dalam menerima apa yang diajarkan oleh para pengajar. Kendati demikian, banyak pengajar telah berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan iklim belajar yang paling tidak, bisa membuat siswa atau objek yang diajari mengerti dan memahami materi.

    Adapula pengajar yang memanfaatkan media digital dengan meminta para siswa atau objek yang diajar untuk menciptakan sendiri kreativitasnya melalui pembuatan konten, terkait pembelajaran atau materi yang dibahas.

    Adapula yang mewajibkan mahasiswa menuliskan kembali pandangan mereka dalam bentuk esai atau makalah kemudian dipresentasikan di kelas secara online. Itulah fakta yang terjadi.

    Terkait apa yang dikatakan oleh Lonergen, bagaimana kita bisa mengukur bahwa model pembelajaran yang selama ini dikembangkan oleh guru, bisa menunjukan bahwa proses transformasi intelektual berjalan?.

    Hemat penulis, melalui metode ujian lisan virtual dimana setiap siswa atau objek yang diajari, berdialog secara virtual dengan pengajar. Metode ini tentu menjadi kunci bagi pengajar untuk mengukur kemampuan intelektual objek yang diajari (para siswa dan mahasiswa).

    Di dalam model ujian ini, semua hal bisa diuji oleh para pengajar, sehingga alat ukur untuk memberikan nilai bagi mereka bisa jelas. Di sisi yang sama, kita bisa melihat secara jelas (walaupun virtual) para subjek didik, mengerti dan atau tidak mengerti apa yang telah pernah diajarkan.

    Kedua, terkait transformasi moral yang menjadi fokus dari Lonergen, pengajar tentu harus memaksimalkan poin-poin dalam materi yang diajarkan untuk bisa menghasilkan transformasi moral ini.

    Transformasi moral juga bisa tampak lewat pembuatan konten, sebagai bagian dari pendalaman materi yang telah diajarkan di kelas online). Jika semua ini bisa dijalankan, tentu pada akhirnya mengabdi kepada kretivitas yang benar-benar memanfaatkan media digital yang ada.

    Demikian juga, konten yang diciptakan oleh para subjek didik, bisa diposting di berbagai media sosial yang ada, dalam rangka juga mengedukasi masyarakat.

    Dengan demikian, jika hal ini bisa berjalan dengan baik, dua poin yang dikatakan oleh Lonergen, tentu bisa berjalan dalam proses pendidikan. Menjadi pengajar bukan hanya bermental: ‘catat buku sampai habis’, lalu diberi penilaian.

    Pengajar harus mampu dan siap mengukur pengetauan subjek didik, melalui ujian lisan virtual, termasuk memberikan kesempatan para subjek didik untuk menciptakan konten kreatif berdasarkan materi yang diajarkan. Dari sini, proses transformasi yang memayungi kedua poin ini, benar-benar berjalan dengan baik.
    (Gabri)

  • Peduli Lingkungan Hidup. GenBI dan Bank Indonesia KPW SULUT Deklarasikan Bersih Indonesia

    test.petasulut.com/, SULUT – Ditengah pandemi Covid-19 ini tidak membuat masyarakat bahkan para anak muda untuk terus peduli terhadap lingkungan sekitar.

    Hal ini nampak oleh para Generasi Baru Indonesia (Bank Indonesia KPW Sulut) yang mengadakan kegiatan dengan tema bersih Indonesia.

    Kegiatan bersih pantai sekaligus deklarasi jaga kebersihan pantai dilakukan di pantai Batu Angus, Bitung. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 10 April 2021.waktu lalu

    Menurut Serjio Saeh ketua devisi development GenBI Sulut menjelaskan, Kegiatan Bersih Indonesia tersebut mengajak seluruh masyarakat agar dapat meningkatkan kepedulian dengan kebersihan di seputaran pantai.

    Selain itu Lanjut Serjio, kegiatan bersih pantai sekalian mendeklarasikan “Jaga Kebersihan Pantai".
    Kegiatan ini juga merupakan suatu kegiatan positif bagi masyarakat terlebih khusus kaum milenial untuk menjaga kebersihan pantai.

    Diharapkan juga melalui kegiatan tersebut dapat menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk dapat berkunjung ke Sulawesi Utara terlbih khusus pantai Batu Angus,Bitung, dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan dari masyarakat seputaran batu Angus. Tutupnya

    Dilain sisi Arbonas Hutabarat Mengatakan, Kegiatan Bersih Indonesia diharapkan dapat menjadi dasar bagi semua masyarakat menigkatkan kualitas sadar wisata bagi seluruh masyarakat khususnya Sulawesi Utara, karena mengingat Sulawesi Utara sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas yakni KEK LIKUPANG, ucap Arbonas.

    Deklarasi tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat, jajaran pimpinan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Ketua Divisi Social and Community Development Serjio Saeh dan perwakilan dari GenBI Sulut.
    (Gabri)

  • Budidaya Ikan Lele Menjadi Potensi Usaha di Masa Pandemi Covid-19

    Penulis: Agustinus Rumimpunu SPi

    test.petasulut.com/, Manado, — Sektor perikanan budidaya masih cukup menjanjikan di tengah masa pandemi Covid-19.

    Salah satu komoditi unggulan adalah ikan lele (Chlaros) yang layak dijadikan usaha bagi semua kalangan. Selain sederhana dalam pemeliharaan, ikan lele juga berpeluang mengasilkan income keuntungan.

    Jenis ikan lele sangkuriang saat ini di kembangkan kelompok usaha bididaya makasudu di area Mapanget, Paniki bawah dengan perincian perkiraan sekitar 3 hingga 4 bulan dari kategori larva (benih) sudah bisa mengasilkan sekilo 6 sampai 8 ekor.

    Ikan lele bisa dipelihara di dalam kolam beton, terpal bioflok atau kolam pekarangan sederhana. Selain itu, didalam ikan lele memiliki gizi yang cukup tinggi, terutama protein.

    Cara mengawinkan induk pun sederhana dengan kombinasi 2:2 yakni 2 jantan 2 betina atau 1:2 yaitu 1 jantan 2 betina.

    Dengan cara ini sudah bisa mendapatkan calon benih larva lele dengan metode secara alami atau vegetatif suntikan buatan.

    Dalam periode 3 hingga 4 bulan dari larva lele sudah masuk kategori siap konsumsi yaitu 1 kilogram 6 sampai 8 ekor.

    Kemudian dari pemberian makan pemeliharaan bisa berupa pelet apung, teripang ayam rebus dan cacing sutra untuk kategori larva.

    Sehingga sangat layak dijadikan usaha pengembangan budidaya ditengah pendemi Covid-19.

    Untuk mendapatkan ikan lele di area Manado bisa datang langsung di Mapanget Paniki, tepatnya di kelompok usaha pokdaken makasudu yang menjual ikan lele dengan beragam ukuran siap konsumsi.

    Pemeliharaan dan pembesaran ikan lele sangat sederhana untuk usahawan pemula mengingat komoditi lele termasuk ikan yang daya tahan tubuh kuat dalam pemeliharaan sulit terserang penyakit.

    Angka pemeliharaan hidup dari larva sampai dewasa termasuk bisa dipastikan aman.

    Dengan niat positif, tekun dan rajin, niscaya keuntungan kedepan cukup menjanjikan.

    Semangat berbudidaya perikanan.

    (*/Gabri)

  • Benarkah Uya Kuya Meninggal Dunia?

    test.petasulut.com/, NASIONAL – Media sosial tiktok ramai dengan beredarnya kabar salah satu artis papan atas Uya Kuya meninggal dunia.

    Benarkah Uya Kuya meninggal dunia usai terpapar Virus Corona?

    Berdasarkan kabar tersebut, Instagram @king_uyakuya langsung dibanjiri komentar netizen.

    Tepatnya di Postingan terbaru Uya Kuya, pada Sabtu (20/2/2021).

    Berikut beberapa komentar netizen pasca beredarnya kabar tersebut.

    “Kesini karna berita lu meninggal (emoji),” tulis pemilik akun @euissakila01.

    “@euissakila01 sial gw kemakan hoax ternyata (emoji),” tulis pemilik akun @lix.nuel.

    “tiktok emng bener2 yha fitnah aja (emoji),” tulis pemilik akun @ayu_saharani03.

    Kabar Uya Kuya wafat ini viral dan menjadi pencarian tertinggi di Google Trends. Terpantau, hingga Sabtu 20 Februari 2021 tercatat dengan 200 ribu pencarian terkait Uya Kuya meninggal dunia

    Dilansir dari Tribunnews.com, Uya Kuya membeberkan biaya pengobatan selama 9 hari pasca dinyatakan positif terpapar Covid-19.

    Bukan cuma Uya Kuya, sang istri, Astrid, juga ikut menjalani perawatan di rumah sakit yang sama. Tak ayal, mereka merogoh dana Rp 233 juta untuk biaya pengobatan dirinya dan istri.

    Jangan sampai kena Covid, itu mahal, untuk biaya rumah sakit sembilan hari 130 juta lebih, Astrid Rp103 juta, mahal guys jadi jangan main-main,” ucap Uya Kuya di channel Youtube miliknya Uya Kuya TV, Selasa, (16/2/2021).

    Biaya yang terbilang mahal tersebut di keluarkannya, agar ia dan istri dapat lebih cepat sembuh.

    (ABL)

  • Flashback Pilkada Serentak 2020

    test.petasulut.com/, NASIONAL – Jerry Massie (Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies): Kendati Golkar mengklaim unggul di 165 daerah di Pilkada serentak 2020, tapi saya lihat ada sejumlah kegagalan partai ini. Khususnya di yellow province (provinsi kuning) yang didominasi oleh partai berlambang Beringin ini.

    Contoh di Sumsel, Golkar kalah telak sama Nasdem yang unggul di 6 daerah dari 7 daerah yang diikutinya. Begitu pula di Riau yang mana gagal mengimbangi Nasdem merebut 6 pilkada disana. Yang tragis, di Indramayu dan Blora sejak lama dikuasai Golkar buntutnya mereka keok.

    Paling tragis di pilkada Sulawesi Utara (Sulut) dari 8 pemilihan tak satupun kader Golkar menang. Padahal dalam 1 dekade provinsi ini dikuasai Golkar. Sebut saja, Kabupaten Minahasa, Bolmong, Sangihe, KotaMobagu, Manado, Tomohon, Minsel semuanya milik Golkar namun kini di take over (diambil alih) PDIP. Kader Golkar yang tersisa hanyalah di Kabupaten Sangihe.

    Untuk, partai Nasdem ada peningkatan di sejumlah daerah kendati gagal di Sulut. Dari total pasangan calon yang menang sebanyak 90 di antaranya merupakan kader NasDem. Ini mencakup 1 calon gubernur, 2 calon wakil gubernur, 47 calon bupati/calon wali kota, 32 calon wakil bupati/calon wakil wali kota, dan 4 pasangan calon yang semuanya kader NasDem.

    Partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri pauti berbangga pasalnya politik sapu bersih di Jateng, Yogyakarta, Bali hingga Sulut.

    Sedangkan kader murni PDIP 11 Jatim, 7 dari 8 pilkada di Sulut, 5 di Sultra, 17 dari 21 pilkada di Jateng.

    Sementara, kader PKB menang di 8 wilayah Jateng terbanyak wakil bupati/walikota
    Demokrat sendiri yang digawangi tokoh Mileneal Agus Yudhoyono (AHY) menang di Pilgub Kalimantan Utara Selatan dan Tengah.
    Pengusung pasangan calon (paslon) di 240 dari 261 kabupaten/kota yang mengadakan pilkada.

    Sejauh ini, PD mengklaim memenangkan 124 pilkada. Partai Demokrat memperoleh kemenangan di 124 daerah yang diikuti. Dari jumlah kemenangan tersebut, 70 daerah yang menang mengusung kader sendiri, dan hanya 54 daerah kemenangan yang non-kader,” 

    Partai Amanat Nasional PAN) sendiri menurut Ketum Zulkifli Hasan, partainya menang di 130 daerah dalam pilkada serentak 2020 se-Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 daerah merupakan kader internal partainya

    Paslon PPP telah berhasil menang di 123 daerah atau dalam persentase menang sebesar 55,5 persen yang kemungkinan jumlah dan persentase ini masih akan bertambah. Dilihat dari target pemenangan Pilkada PPP yang 60 persen dari jumlah yang diikuti, maka capaian Pilkada PPP ini telah mendekati target.

    Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berhasil memenangkan 122 dari 230 pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang diikuti.

    Saya nilai PKS dan PAN mengklaim menang di 122 daerah serta PPP di 123 tapi kader murni kecil belum di publish siapa saja kader tersebut.

    Saling klaim wajar tapi pilkada ini masih di dominasi PDIP, Golkar, Nasdem dan Demokrat serta Gerindra.

    Partai besutan Prabowo Subianto ada kemajuan di Jatim dimana mereka mengklaim menang di 14 daerah.

    Bisa saja Gerindra mengklaim unggul 70 persen di pilkada serentak tapi sejauh ini kader murni yang menang masih kalah sama partai lainnya.

    Menurut saya, jika hanya menang merger atau afiliasi bahkan koalisi politik itu kemenangan semu. Harusnya kader murni yang diusung itu baru sah.

    Tapi penilaian saya Partai Mercy Biru atau Demokrat ada peningkatan. Dan ini menjadi ancaman pada Pilpres 2024 mendatang.

    Sedangkan capaian terbaik Golkar di Sulsel yang mana mereka menang di 7 daerah.

    Barangkali Provinsi Banten akan menjadi milik Golkar. Namun, hasil finalnya akan ditentukan oleh KPU. Dan akankah ada gugatan-gugatan di setiap daerah ini masih akan berlanjut? Silahkan saja klaim- mengklaim tapi itu masih politik hipotesis nanti keputusan ditangan KPU.

    Jangan hanya menang di quick count atau hitugan cepat. Pasti diantara itu ada yang meleset.