Category: Wisata

  • Mengenal Lebih Dekat Tari Kabasaran Asal Minahasa

    test.petasulut.com/, SULUT – Berbagai daerah memiliki khas budaya dan adat masing-masing. Budaya dan adat itupun menjadi wajah atau identitas dari daerah tersebut.

    Bahkan, Budaya itu menjelma menjadi sosok spektakuler di kanca Nasional maupun Internasional.

    Berbicara mengenai budaya, ada salah satu daerah yakni Sulawesi Utara yang kini kian menarik perhatian jutaan mata.

    Yah, Tarian Kabasaran yang merupakan tarian tradisional masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara.

    Tari kabasaran dahulu dimainkan oleh para penari laki-laki yang umumnya bekerja sebagai petani atau penjaga keamanan desa-desa di Minahasa. Jika sewaktu-waktu wilayah mereka terancam atau diserang musuh, mereka meninggalkan pekerjaan dan berubah menjadi waranei atau prajurit perang.

    Wajah mereka terlihat garang, dengan mata melotot, dan tanpa senyuman. Bersenjatakan pedang dan tombak, mereka bergerak melompat, maju-mundur, dan mengayunkan senjata dengan sigap. Terlihat seperti prajurit yang berperang menghancurkan musuh. Tak jarang aksi mereka mengejutkan orang-orang yang melihatnya sehingga berteriak: “arotei, okela”.

    Menurut adat, penari kabasaran harus berasal dari keturunan sesepuh penari kabasaran. Mereka juga memiliki senjata yang diwariskan dari para leluhur. Senjata inilah yang dipakai saat menari.

    Kemunculan tarian ini tak bisa dipisahkan perang berkepanjangan dan ancaman dari suku-suku lain yang berdekatan. Untuk mempertahankan diri, leluhur orang Minahasa berusaha memperkuat diri dengan merekrut orang-orang kuat dan berbadan besar yang dilatih berperang dengan menggunakan pedang (santi) dan tombak (wengko).

    Menurut Vivi Nansy Tumuju dalam “Simbol Verbal dan Nonverbal Tarian Kabasaran dalam Budaya Minahasa” di Jurnal Duta Budaya, No. 78-01 Tahun ke-48, Juni/Juli 2014, para ksatria yang tuama (bersifat jantan) atau wuaya (berani) inilah militer pertama di Minahasa. Mereka harus menjadi penjaga desa (walak) yang harus siap siaga jika ada ancaman.

    “Gerakan-gerakan para prajurit ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk berperang, seperti lompatan, lompatan maju menyerang, mundur atau menyamping untuk menghindari dan menangkis serangan musuh disertai jeritan menakutkan. Itulah yang disebut cakalele atau dalam Minahasa tua sakalele,” ungkap Vivi.

    Dari tari cakelele ini pula lahir tari kabasaran. Sutisno Kutoyo dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara menyebut tari kabasaran merupakan penyederhanaan dan penghalusan dari cakalele, tari perang sekaligus pemujaan leluhur. Tujuan tari cakalele dirasakan kurang ramah menyambut tamu-tamu Belanda, karena gerakan-gerakannya yang kasar dan liar.

    “Dengan menggunakan gerakan-gerakan quadrille yang diperkenalkan Spanyol maka diciptakanlah tari kabasaran sebagai tari untuk menyambut tamu-tamu Belanda,” catat Sutisno Kutoyo.

    Istilah kabasaran sendiri merupakan perubahan dari kawasaran. Kawasaran berasal dari kata wasar yang artinya ayam jantan aduan yang sengaja dipotong jenggernya (sarang) agar lebih galak saat diadu.

    “Jadi kabasaran artinya penari yang menari seperti gaya gerak dua ekor ayam yang sedang menyabung, atau identik dengan ayam aduan,” ungkap Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa.

    Dulu setiap kampung memiliki beberapa penari kabasaran. Organisasi kabasaran ditangani oleh para “Hukum Tua” atau kepala kampung. Mereka mendapat tunjangan garam, beras, gula putih, kain dan tembakau setiap bulan.

    “Mereka bertugas melakukan penjemputan adat para tamu agung, upacara adat pemakaman pemimpin masyarakat, dan sebagai Polisi Am untuk menjaga keamanan kampung dan menangkap penjahat,” tambah Wenas.

    Gerakan tari kabasaran enerjik melambangkan semangat seorang prajurit perang, tapi juga dinamis mengikuti irama alat musik. Semua gerakan tari berdasarkan komando atau aba-aba dari pemimpin tari yang disebut tombolu, yang dipilih sesuai kesepakatan para sesepuh adat. Tarian diiringi alat musik pukul seperti gong, tambur, atau kolintang.

    “Penari yang terluka biasanya karena kesalahan sendiri, yang dalam hal ini si penari kurang menguasai sembilan jurus memotong dengan pedang dan sembilan jurus tusukan tombak,” ujar Wenas.

    Tari kabasaran terdiri dari tiga babak, yang berasal dari tiga tarian dalam upacara adat berbeda: cakalele dari upacara sebelum dan setelah kembali berperang; kumoyak berasal dari upacara korban kepala manusia; dan lalaya’an dari upacara menghilangkan panas jimat-jimat yang melekat di badan.

    Masing-masing babak punya gerakan yang berbeda. Babak pertama, cakalele; berasal dari kata “caka” yang artinya bertarung dan “lele” artinya mengejar. Pada babak ini, gerakan penari layaknya bertarung. Penari berpura-pura saling menebas dengan pedang dan menusuk dengan tombak dalam iringan langkah irama 4/4 sesuai bunyi tambor.

    Kedua, kemoyak; berasal dari kata “koyak” yang berarti mengayunkan senjata. Kata koyak juga bisa diartikan membujuk roh musuh yang terbunuh dalam pertempuran agar bisa tenang. Pada babak ini, para penari benar-benar memainkan senjata dengan gerakan mendorong maju. Tarian juga diikuti puisi yang dilantunkan seorang pemimpin tari dan akan disambut sorakan para prajurit.

    Menurut Wenas, dulu ini merupakan tarian membawa kepala manusia. Pada tarian ini para kabasaran membentuk lingkaran lalu menari mengelilingi kepala manusia yang diletakkan di tengah lingkaran sambil menyanyi lagu Koyak e waranei, lagu patriotik keprajuritan tradisional Minahasa tempo dulu.

    Ketiga, lalaya’an dimana penari meletakkan senjata tajam sambil menari lionda dengan penuh senyuman. Lionda, kata Wenas, berarti meletakkan tangan di pinggang dan berdiri dengan satu kaki terangkat. Berbeda dari babak-babak sebelumnya, penari menanggalkan ekspresi serius dan tampang sangar. Mereka bisa menari sambil tersenyum, sebagai simbol membebaskan rasa amarah setelah selesai berperang.

    Kostum para penarik tak kalah menarik. Kostum terbuat dari kain tenun khas Minahasa, yang didominasi warna merah. Para penari juga memakai topi bulu ayam atau bulu burung cenderawasih, kalung, gelang, dan aksesoris lainnya.

    “Dahulu pakaian penari sama dengan penari cakalele, tapi sekarang pakaian bebas asalkan berwarna merah,” catat Sutisno Kutoyo.

    Bahkan menurut Willy Rantung salah satu penari Kabasaran bahwa tarian ini harus dilestarikan.

    “Kami bukan penyembah berhala melainkan, kami adalah penerus budaya nenek moyang kami, MINAHASA,” Tuturnya.

    Tari kabasaran lestari hingga saat ini. Beberapa kelompok tari masih merawat kesenian tradisional ini di sejumlah wilayah di Minahasa seperti Tombulu (Desa Kali, Desa Warembungan, Kota Tomohon), Tonsea (Desa Sawangan), Kota Tondano, dan Tontembuan (Desa Tareran).

    Tari kabasaran juga kerap ditampilkan dalam acara penyambutan tamu, kenaikan pangkat pejabat di wilayah Sulawesi Utara, upacara adat pernikahan, dan kegiatan sosial lainnya. Bahkan pernah ikut membuka pesta olahraga Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

    (ABL)

    Sumber: Indonesiakaya.com

  • Peduli Lingkungan Hidup. GenBI dan Bank Indonesia KPW SULUT Deklarasikan Bersih Indonesia

    test.petasulut.com/, SULUT – Ditengah pandemi Covid-19 ini tidak membuat masyarakat bahkan para anak muda untuk terus peduli terhadap lingkungan sekitar.

    Hal ini nampak oleh para Generasi Baru Indonesia (Bank Indonesia KPW Sulut) yang mengadakan kegiatan dengan tema bersih Indonesia.

    Kegiatan bersih pantai sekaligus deklarasi jaga kebersihan pantai dilakukan di pantai Batu Angus, Bitung. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 10 April 2021.waktu lalu

    Menurut Serjio Saeh ketua devisi development GenBI Sulut menjelaskan, Kegiatan Bersih Indonesia tersebut mengajak seluruh masyarakat agar dapat meningkatkan kepedulian dengan kebersihan di seputaran pantai.

    Selain itu Lanjut Serjio, kegiatan bersih pantai sekalian mendeklarasikan “Jaga Kebersihan Pantai".
    Kegiatan ini juga merupakan suatu kegiatan positif bagi masyarakat terlebih khusus kaum milenial untuk menjaga kebersihan pantai.

    Diharapkan juga melalui kegiatan tersebut dapat menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk dapat berkunjung ke Sulawesi Utara terlbih khusus pantai Batu Angus,Bitung, dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan dari masyarakat seputaran batu Angus. Tutupnya

    Dilain sisi Arbonas Hutabarat Mengatakan, Kegiatan Bersih Indonesia diharapkan dapat menjadi dasar bagi semua masyarakat menigkatkan kualitas sadar wisata bagi seluruh masyarakat khususnya Sulawesi Utara, karena mengingat Sulawesi Utara sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas yakni KEK LIKUPANG, ucap Arbonas.

    Deklarasi tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat, jajaran pimpinan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Ketua Divisi Social and Community Development Serjio Saeh dan perwakilan dari GenBI Sulut.
    (Gabri)

  • Air Terjun TUMIMPERAS Tomohon, Destinasi Yang Sangat Menawan

    test.petasulut.com/, SULUT – Daerah Sulawesi Utara memang dipenuhi ratusan destinasi wisata.

    Ada yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia namun ada juga yang masih original alias belum disentuh (alami).

    Memang kelebihan yang di berikan Tuhan untuk Daerah Sulawesi Utara sangat-sangat tak ternilai.

    Dari sekian banyak destinasi wisata, mata kita harus tertuju pada tempat wisata Air Terjun TUMIMPERAS.

    TUMIMPERAS ini berlokasi di Pinaras, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon.

    Air terjun ini bisa dibilang masih sangat-sangat alami, karena keindahan yang dipancarkan di lokasi ini sangat menawan, suara-suara seperti di hutan masih terasa jelas. Tentunya ini menjadi nilai tersendiri dari TUMIMPERAS.

    Namun untuk sampai ke air terjun ini, memang perlu sedikit tenaga untuk sampai ke lokasi, dimana terdapat kurang lebih 800 anak tangga sebagai akses untuk menjadi tantangan awal.

    Tapi, ketika sampai dilokasi para pengunjung akan merasa lega karena telah terbayar lunas oleh keindahan Air Terjun TUMIMPERAS.

    Bagi Wisatawan yang suka main air, tentunya TUMIMPERAS adalah tempat yang sangat cocok. Pengunjung juga akan disuguhkan dengan suasana alam yang spektakuler.

    Bagi yang suka foto-foto, Air Terjun ini menawarkan spot-spot yang alami dan pastinya mendapat hasil foto yang luar biasa.

    Pengunjung pasti akan sangat betah berlama-lama di sana, Air terjun yang sangat segar dan lingkungan yang bersih, menjadi kesan tersendiri bagi wisatawan.

  • Keindahan Gunung AMBANG di Sulawesi Utara Sangat Mempesona

    test.petasulut.com/, SULUT – Satu lagi pesona alam yang berada di Provinsi Sulawesi Utara yakni Gunung AMBANG.

    Namun untuk dapat melihat pesona dari gunung AMBANG tersebut, para pengunjung harus naik di ketinggian 1795 meter.

    Jadi kebanggaan tersendiri bagi penggemar trecking untuk mendaki Gunung AMBANG, keindahan yang disuguhkan pun sangat berbeda dengan gunung-gunung lainnya.

    Gunung AMBANG terbentang di 3 wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Selatan dan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

    Gunung ini juga merupakan kawasan cagar alam, sehingga tidak heran mereka yang melakukan pendakian, terkadang akan bertemu dengan binatang langka yang dilindungi, seperti Anoa, serta binatang liar lainnya seperti ular dan babi hutan.

    Tentunya hal itu menjadi nilai plus untuk para pendaki atau pengunjung yang hendak menaiki gunung AMBANG.

    Spot-spot untuk foto ketika sudah berada di puncak sangat elegan, alami dan nuansa pegunungan sangat nampak.

    Pastinya mereka yang sudah pernah mengunjungi gunung AMBANG merasa sangat bahagia dan betah berlama-lama guna menikmati momen langkah itu.

  • Puncak KAISANTI, Tempat Wisata Dengan Pesona Alam Mengagumkan

    test.petasulut.com/, SULUT – Sulawesi Utara memang dengan dikenal dengan surga wisata. Ratusan tempat wisata yang tersebar di Sulut membuat para wisatawan lokal maupun manca negara berbondong-bondong datang guna menikmati karya alam yang diberikan Tuhan di daerah ini.

    Nah, saat ini ada 1 tempat yang paling banyak dicari wisatawan dikarenakan pesona yang dipancarkan tempat tersebut sangat memanjakan mata sekaligus menikmati udara alam yang segar. Jawabannya ada KAISANTI.

    Tempat wisata KAISANTI berlokasi di desa Woloan Kota Tomohon Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

    Keunggulan tempat Wisata KAISANTI yakni telah tersedianya spot foto berupa gardu pandang yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung.

    Beragam spot foto indah pun menjadi daya tarik bagi para pengunjung, mulai dari gardu pandang, jam raksasa, perahu kayu, kasur empuk, ayunan,
    dan lain sebagainya.

    Yang hobi hunting foto, KAISANTI adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi.

    Disana juga telah tersedia Cafe bagi para pengunjung, yang pastinya menjadi pasangan yang pas apabila bersantai. Cemilan ringan, Kopi susu dan sebagainya menjadi teman yang pas.

    Tak hanya itu, KAISANTI juga adalah tempat yang cocok untuk Prewedding, karena pesona alam disana sangat indah. Tentunya bagi pasangan yang ingin berfoto-foto tidak ribet lagi mencari spot-spot karena semuanya sudah tersedia.

    Intinya, para wisatawan akan sangat puas dengan keindahan yang disuguhkan oleh puncak KAISANTI.

  • Pesona TU’UR MA’ASERING Tomohon Menghadirkan Hutan Pohon Aren

    test.petasulut.com/, SULUT – Berbicara tentang Wisata memang selalu memunculkan hal yang unik nan menarik. Apalagi tempat wisata tersebut mempunyai berbagai macam keberagaman yang pastinya menjadi salah satu daya tarik para wisatawan.

    Seperti halnya tempat wisata yang bernama TU’UR MA’ASERING, tepatnya berada di daerah perkebunan Kelurahan Kumelembuai, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon Sulawesi Utara.

    Objek wisata yang dihasilkan lewat sentuhan ramah lingkungan dan diaplikasikan dengan tetap menjaga nilai-nilai ekologi hutan pohon Enau/Aren (di Minahasa dikenal dengan nama Pohon Seho), berhasil menciptakan daya tarik tersendiri sekaligus menempatkan TU’UR MA’ASERING sebagai satu-satu-nya tempat pariwisata di daerah ini yang menyuguhkan pesona nuansa alam hutan yang khas.

    Hal istimewa lainnya, TU’UR MA’ASERING memang dihadirkan dengan mencerminkan suasana kehidupan rakyat Minahasa yang sebenarnya, sebagaimana kearifan yang telah diwarisi sejak dulu. Dimana, nilai-nilai kekeluargaan sangat erat tercipta lewat kebersamaan yang terjalin saat berada di alam bebas.

    Seperti yang dikatakan Jeffri H. Polii, sang kreator sekaligus pemilik TU’UR MA’ASERING.

    Ia menjelaskan bahwa pengelolaan dan pengembangan TU’UR MA’ASERING akan lebih diarahkan kepada bentuk pelestarian nilai-nilai ekologi yang diorientasikan untuk memperkuat ketahanan pangan demi peningkatan kesejahteraan rakyat.

    “Selain pesona keasrian hutan, para wisatawan yang berkunjung dapat menyaksikan langsung berbagai bentuk kearifan lokal yang dilakukan masyarakat dalam mengelola hasil alam khususnya dari Pohon Enau (Seho,red) untuk menopang perekonomian rakyat petani,” jelas Jeffri yang sangat akrab disapa dengan nama Jepol.

    Diceritakan juga, TU’UR MA’ASERING disiapkan untuk menjadi pusat gerakan perekonomian rakyat petani. Tujuannya untuk mengoptimalkan kegiatan petani dengan spirit bekerja dari kebun.

    “TU’UR MA’ASERING adalah karya dan kreativitas yang muncul secara murni dari rakyat petani, sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan yang bersumber dari hasil perkebunan. Artinya, jika yang elemen lain harus bekerja dari rumah atau dikenal dengan sebutan work from home, maka kami dan masyarakat petani harus tampil terdepan untuk bekerja dari kebun atau Work Form Garden. Ini sebagai bentuk keseimbangan sosial yang diwujudkan oleh masyarakat petani,” ujarnya.

    Diketahui bahwa terhitung mulai tanggal 11 Oktober 2020, TU’UR MA’ASERING akan mulai dibuka untuk umum.