Tag: rs walanda maramis

  • Kawal Keluhan Warga Soal Pelayanan Kesehatan, Komisi IV Bentuk Timsus

    test.petasulut.com/, SULUT – Dimasa Pandemi Covid-19 yang sampai detik ini terus menggerogoti daerah Sulawesi Utara, berbagai keluhan masyarakat terus diutarakan, salah satunya mengenai pelayanan kesehatan.

    Dimana pada beberapa pekan belakangan muncul keluhan-keluhan warga akan pelayanan kesehatan rumah sakit yang sempat viral di media sosial.

    Baru-baru ini pula, Komisi IV DPRD Sulut menerima laporan salah satu keluarga pasien yang mengadu terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit.

    Langkah cepat pun dilakukan Komisi IV dengan langsung memanggil pihak RS Walanda Maramis dan Kandou untuk meminta penjelasan terkait keluhan tersebut.

    Rapat dengan pihak RS tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu, didampingi Wakil Ketua Careig N. Runtu, serta dihadiri Koordinator Komisi IV Billy Lombok SH, anggota Melky Pangemanan, Yusra Alhabsyi dan Hilman Idrus.

    Pada pertemuan itu, pihak rumah sakit maupun pihak keluarga korban (Ibu hamil yang meninggal) melalui juru bicara menyampaikan penjelasan.

    Rapat yang berjalan kurang lebih 4 jam itu membuat Komisi IV DPRD Sulut mengeluarkan beberapa kesimpulan, salah satunya adalah akan membentuk tim khusus atas keluhan pelayanan rumah sakit, agar lebih detail dan bisa fokus.

    Selain itu juga, Komisi IV juga menyatakan siap mengawal dan memperjuangkan insentif nakes, sehingga pelayanan akan semakin baik.

    “Permasalahan-permasalahan yang terjadi dibeberapa rumah sakit di Sulut, termasuk di rumah sakit Prof Kandou kita akan mengusulkan untuk membuat tim khusus, supaya segala sesuatu permasalahan bisa berkembang disitu,” tegas Ketua Komisi IV Braien Waworuntu, (12/8).

    “Dan terkait dengan tunjangan dari nakes kita tentunya akan memperjuangkan. Tahun tahun sebelumnya komisi IV telah memperjuangkan insentif dari para dokter LPDS, dan itu disalurkan langsung oleh menkes. dan kita terus akan mengawal supaya COVID-19 di Sulut menurun. kita sama-sama berdoa,” tandasnya.

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Careig Runtu juga mengatakan tim khusus komisi IV ini akan mengawal pelayanan kesehatan di seluruh rumah sakit yang berada di Sulut.

    “Bukan cuma di Kandou atau Walanda Maramis, Timsus ini akan mengawal pelayanan kesehatan di seluruh RS di Sulut, semoga kedepannya tidak terjadi lagi keluhan-keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan,” tutup CNR.

    (ABL)

  • BRAIEN: Siapapun Dia, Semua Mempunyai Hak Yang Sama Peroleh Fasilitas Kesehatan

    test.petasulut.com/, SULUT – Diketahui, baru-baru ini Komisi IV DPRD Sulut segera menindaklanjuti keluhan-keluhan yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Utara terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dengan menggelar RDP bersama Rumah Sakit Walanda Maramis dan RSUP Prof. R.D Kandou Malalayang, Kamis (12/8) kemarin.

    Pada kesempatan itu, Komisi IV DPRD Sulut pun mendengar langsung keluhan yang dialami salah satu keluarga ibu hamil yang meninggal, disertai juga penjelasan dari kedua pihak rumah sakit.

    Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Braien Waworuntu mengambil hal positif dan pelajaran berharga dari kasus yang terjadi itu.

    “Duka mereka menjadi duka saya juga, Saya tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali kepada masyarakat Sulut, siapapun dia dan latarbelakang apapun dia. Semua mempunyai hak yang sama untuk memperoleh fasilitas kesehatan sebagai warga Negara Indonesia sesuai amanat pasal 28 Ayat 1 UUD 1945” tutur Politisi Partai NasDem Sulut itu.

    Dalam kondisi dan situasi pandemi Covid-19 saat ini, lanjut Braien Waworuntu bahwa kita tetap dukung dan doakan saudara-saudara kita dan sahabat-sahabat kita Tenaga Kesehatan yang berjuang dan menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi ini.

    “Semoga tetap diberikan kesehatan dan kekuatan untuk tetap profesional dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” kata Aleg Dapil Minahasa-Tomohon itu.

    “BW Bersama Rakyat! BW Bersama NaKes! God bless Indonesia, God Bless North Sulawesi! Salam sehat,” tambahnya.

    (ABL)

  • Ini Penjelasan RS Walanda Dan Kandou Soal Pasien Ibu Hamil Yang Meninggal Terkonfirmasi Positif Covid

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi IV DPRD Sulut, Pihak Rumah Sakit Walanda Maramis Dan RS Kandou serta Keluarga pasien ibu hamil yang meninggal yang digelar pada kamis (12/8), Pihak RS Walanda dan Kandou memberikan penjelasan resmi terkait kronologi pelayanan kesehatan terhadap pasien ibu hamil.

    Dihadapan Komisi IV, Pihak RS Walanda Maramis mengakui bahwa ada salah ucap dari petugas soal hasil swab antigen.

    “Yang sebetulnya dikatakan Positif, tapi petugas kami mengatakan reaktif. Kalau reaktif itu adalah pemeriksaan antibodi. Kami mohon maaf atas kesalahan itu,” mohonnya.

    Pihak RS Walanda juga menuturkan untuk rujukan pasien dari RS walanda ke Kandou tidak serta merta untuk segera dirujuk. Karena kementerian kesehatan telah mengeluarkan aktivasi yang namanya sisrute. Sisrute ini harus kita isi guna merujuk pasien, setelah itu kita melihat apa-apa yang harus disediakan untuk kita merujuk pasien.

    “Jadi kenapa pasien datang jam 11 lebih itu, dan dirujuk pada jam 16.30. jadi kita tidak bisa merujuk pasien tanpa ada pemeriksaan sebelumnya. Selanjutnya, kenapa swab antigen oleh pasien dilakukan setelah infus, karena sesuai penglihatan petugas jaga pada saat itu, harus di infus terlebih dahulu baru dilakukan swab antigen. Itu dilakukan secara pararel,” jelas pihak RS Walanda maramis.

    Terkait kenapa tidak dilakukannya operasi, dirinya menjelaskan pada waktu bersamaan sebagian dokter anastesi beserta perawat sedang isoman, hingga kita memang kekurangan petugas dan tidak bisa bekerja maksimal.

    “Jadi kita tidak bisa melakukan operasi karena kekurangan tenaga medis. Dan untuk diketahui bersama, tindakan rujukan pasien itu, kita sudah mengatakan ke rs kandou penerima rujukan untuk apa-apa yang harus dilakukan terhadap pasien,” katanya.

    Pihak RS Walanda juga menuturkan bahwa sebelum pasien datang ke RS, pasien ibu hamil itu sudah mengalami pecah ketuban 1 hari sebelumnya.

    “Sehingga dimungkinkan terjadi infeksi. Karena dibuktikan dengan warna ketuban yang sudah kehijauan,” tuturnya.

    “Terkait dengan kenapa keluarga pasien ikut naik ke ambulance, harusnya tidak. Tapi karena di rs rujukan harus ada keluarga pasien, terpaksa naik sama-sama di ambulance. Dan untuk keluhan keluarga pasien terkait tidak adanya surat-surat yang keluar dari RS Walanda untuk keluarga pasien, saya mengatakan bahwa memang tidak ada karena hanya dikeluarkan surat untuk rs rujukan yakni rs kandou yang didalamnya surat itu berisi pemeriksaan, obat-obatan dan semua kondisi pasien itu,” tambahnya lagi.

    Soal kondisi janin pada saat datang ke RS Walanda Maramis, pihaknya mengatakan telah melakukan pemeriksaan untuk melihat kesejahteraan bayi didalam kandungan, pada saat pasien datang kondisi janin masih dalam keadaan hidup.

    “Saya melihat ada indikasi yang kurang baik pada janin sehingga saya memutuskan untuk merujuk pasien itu karena harus melakukan tindakan segera” tutupnya.

    Pada kesempatan itu pula, pihak RS kandou melalui Hanri Takasenserang membenarkan bahwa memang telah masuk pasien ini melalui sistim rujukan terpadu (sisrute).

    “Pasien tiba di kandou pada jam 17.10 WITA. Saat itu kami sudah tahu kondisi pasien seperti apa, terutama swab antigen terkonfirmasi positif. Jadi sesuai aturan yang ada, pasien itu tidak bisa diruangan yang sama dengan pasien yg tidak terkonfirmasi positif. Ruang isolasi di IGD diatur tersendiri dan ada alur alurnya. Dan untuk pasien ibu hamil yang melahirkan, kita ada ruangan khusus untuk itu. Dan untuk penempatan pasien ini, kami sudah menjelaskannya kepada keluarga pasien. Setelah masuk, langsung ditangani bidang dan dokter jaga. Untuk diketahui, bunyi jantung janin pada saat itu sudah tidak ada,” jelas Hanri.

    Keluhan mengenai AC, Hanri mengatakan bahwa memang AC-nya pada saat itu lagi rusak, petugas yang memakai APD lengkap pun bekerja basah kuyub, tapi mengenai itu dirinya sudah melapor ke pimpinan dan langsung ditangani.

    Secara teknis, Dokter Joice Sondakh, spesialis kebidanan kandungan mengatakan pada waktu itu bertugas sebagai dokter penanggung jawab.

    “Pada saat itu, waktu dicari bunyi jantung anak sudah tidak ada. Pada waktu itu juga ibu hamil itu menolak untuk dilakukan pemeriksaan, tapi pada akhirnya setelah bernegosiasi deng keluarga pasien sehingga pasien mau untuk diperiksa, itu berlansung kurang lebih dua jam. Dari pasien datang jam 5 sore dan mau diperiksa jam 7 malam. Setelah itu petugas melakukan USG dan lainnya dan bisa dibenarkan bahwa memang bunyi jantung anak itu sudah tidak ada, bayinya sudah tidak bergerak dan itu ada dokumentasinya,” jelasnya.

    Kemudian, lanjutnya merujuk dari hasil itu dirinya mengatakan bahwa akan menunggu lahir spontan, tapi karena ini ruang isolasi kita tidak harus menunggu-nunggu lagi. Jadi dirinya mengatakan kepada keluarga akan dilakukan rangsang dan keluarga pasien setuju untuk pasien dirangsang setelah menerima laporan kondisi pasien.

    “Nah, setelah itu baru pasien diberi makan. Sekitar jam 10 malam kami melakukan induksi perangsangan dan kemajuannya ada. Jam 5.40 subuh, posisinya sudah siap untuk lahir, jam 6.15 kemudian bayi lahir. Lahirnya perempuan, berat tiga kilo empat ratus dan memang sudah meninggal karena sudah lama pecah ketuban. Selanjutnya petugas melakukan pemeriksaan kepada pasien ibu itu. Melalui pemeriksaan laboratorium dan juga melalui pemeriksaan para dokter yang terkait, pasien itu sudah masuk covid berat, karena banyak faktor dan kami juga ada rekam medisnya,” tuturnya.

    Lanjutnya lagi, jam 7.51 ibu itu mulai gelisah dan sesak.

    “Kami langsung segera melakukan tindakan selanjutnya kami memasang oksigen. Pada jam 8.15 ibu itu sudah semakin sesak dan terjadi penurunan kesadaran. Kami konsul ke ICU Palma pada saat itu, Jam 10 ibu semakin memburuk, sesaknya semakin berat dan kami lakukan tindakan yang semakin mendalam yakni perawatan jantung paru-paru. Tapi jam 10.30 dinyatakan meninggal dengan gagal nafas oleh karena covid-19,” tutupnya.

    Sebelumnya, Pihak keluarga (Ibu Hamil yang meninggal) menjelaskan beberapa keluhan terkait pelayanan buruk rumah sakit.

    Bahkan pihak keluarga mengatakan saat pasien berada di ruang isolasi, adanya pembiaran oleh pihak rumah sakit sehingga pasien meninggal.

    “Kasihan keluarga kami sudah kondisi kritis karena covid namun tidak ditangani layaknya pasien yang membutuhkan perawatan cepat,” ungkap keluarga pasien dihadapan pihak RS Walanda Maramis dan Kandou.

    (ABL)

  • Keluhan Keluarga Pasien Ibu Hamil Yang Meninggal, Komisi IV Deprov ‘Semprot’ RS Walanda Dan Kandou

    test.petasulut.com/, SULUT – Terkait Keluhan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan yang dinilai buruk, Komisi IV DPRD Sulut memanggil Management rumah sakit Prof Kandou Malalayang Manado, Management rumah sakit Walanda Maramis Minahasa Utara dan Keluarga pasien Ibu Hamil yang meninggal covid 19, kamis (12/8).

    Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu didampingi Wakil Ketua Careig Runtu dan Anggota Komisi Melky Pangemanan, Yusra Alhabsyi, Hilman Idrus serta koordinator komisi IV Billy Lombok. Yang hadir virtual yakni Sekretaris Komisi IV Jems Tuuk.

    Pada kesempatan itu, Pihak keluarga (Ibu Hamil yang meninggal) menjelaskan beberapa keluhan terkait pelayanan buruk rumah sakit.

    Bahkan pihak keluarga mengatakan saat pasien berada di ruang isolasi, adanya pembiaran oleh pihak rumah sakit sehingga pasien meninggal.

    “Kasihan keluarga kami sudah kondisi kritis karena covid namun tidak ditangani layaknya pasien yang membutuhkan perawatan cepat,” ungkap keluarga pasien dihadapan pihak RS Walanda Maramis dan Kandou.

    Tak hanya itu, pihak keluarga juga menjelaskan meski pasien sudah dalam kondisi kritis, disaat masuk dalam ruangan isolasi rumah sakit prof kandou malalayang, tetapi tidak dilakukan tindakan medis cepat sebagaimana pasien biasa.

    “Sejak masuk ruangan isolasi, Mama seperti dibiarkan, meski sudah mengeluhkan Lapar dan juga kondisi ruangan yang panas bahkan juga meminta ganti baju karena kondisi basah akibat keringat itu tidak ditanggapi oleh petugas jaga. Karena tidak ada penanganan, kami keluarga bahkan sudah menawarkan jadi relawan agar dapat masuk membantu merawat Mama kami untuk melakukan sebagaimana yang diminta, itupun tidak diperkenankan,” jelas Nana keluarga pasien covid 19 yang meninggal.

    Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Braien Waworuntu

    Menanggapi hal itu, Ketua Komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu menekankan bakal mempidanakan oknum yang melalaikan tugas dan tanggungjawabnya, padahal mereka sementara menjalankan tugas kemanusiaan karena membantu orang yang sakit dan yang terkonfirmasi positif covid 19.

    ” Kami tidak akan kompromi dengan oknum nakes yang melalaikan tanggungjawab kemanusiaan yang harusnya dilakukan, karena itu berdampak buruk dan merusak nama baik rumah sakit.” tegas Politisi NasDem itu.

    Dalam kasus ini, Braien mengatakan bahwa mendengar penjelasan dari pihak keluarga dan Pihak RS, bahwa pasien terjadi pembiaran sampai-sampai sudah 2×24 jam tapi belum ada penanganan.

    “Ini tak sesuai SOP dari rumah sakit. Segera benahi hal ini, karena setiap langkah rumah sakit menyangkut nyawa para pasien,” kata BW.

    Sementara itu Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut Careig Naichel Runtu (CNR) terkait adanya keluhan keluarga pasien meminta pihak rumah sakit dapat melakukan perbaikan pelayanan agar supaya pasien mendapatkan pelayanan yang optimal.

    ” Ini tidak hanya untuk rumah sakit prof Kandou dan Walanda Maramis tetapi untuk seluruh rumah sakit yang ada di wilayah Sulawesi Utara sehingga tidak ada lagi kasus sebagaimana yang dikeluhkan keluarga pasien.” tegas CNR.

    Disisi lain, Melky Pangemanan juga menegaskan dihadapan para pihak rumah sakit agar segera benahi cara penyampaian atau penjelasan terhadap keluarga pasien.

    “Karena kalau dokter menjelaskan memakai bahasa-bahasa medis kepada keluarga, kebanyakan masih awam pasti tidak mengerti, saya pun tidak akan mengerti. Untuk itu, rubah gaya penjelasan dokter kepada pasien atau keluarga. Intinya, bahasa-bahasa yang mudah di mengerti,” jelas MJP.

    (ABL)