Tag: Cindy Wurangian

  • Tidak Ada Persetujuan Setneg Atas Perubahan Desain Anjungan Sulut TMII, Benarkah?

    test.petasulut.com/, SULUT – Terkait Pembangunan Anjungan Sulut di TMII, Anggota DPRD Sulut Cindy Wurangian menjelaskan perjalanan dari pembangunan Anjungan Sulut di Taman Mini tersebut.

    “Dari awal, desain anjungan Sulut yang baru ini didesain dari Biro perlengkapan yang pada waktu itu namanya masih biro perlengkapan yang merupakan mitra kerja dari komisi II, kemudian namanya diganti menjadi biro infrastruktur sehingga mitranya berubah ke Komisi III sampai saat ini namanya sudah berubah lagi,” jelas Ketua Komisi II DPRD Sulut itu, dihadapan Seluruh Anggota Pansus LKPJ Tahun 2020 dan Kaban Penghubung Christian Singal, Senin (26/4) di ruang paripurna DPRD Sulut.

    Lanjut Wurangian, pada waktu lalu dirinya mengingat bahwa desain ini butuh waktu diselesaikan karena memerlukan persetujuan dari setneg.

    “Data-data gambar maupun CD masih ada di saya, semuanya. Jadi pada saat itu, desainnya sudah disetujui. Apakah saat ini semuanya sudah berjalan sesuai desain itu? Kalau pak Kaban tadi menyampaikan sudah ada perubahan dan lain sebagainya, ini disetujui oleh siapa? Perubahan-perubahan ini disetujui oleh siapa? Apakah disetujui oleh DPRD melalui komisi III? atau disetujui oleh pimpinan DPRD? dan apakah perubahan-perubahan desain itu disetujui juga oleh Setneg? Karena saya ingat betul bahwa setiap perubahan dan pembangunan yang kita rencanakan harus mendapat persetujuan dari setneg tentang tiang-tiang yang tadi disinggung,” jelas Cindy.

    “Saya sebenarnya tidak ingat yah bahwa ada tiang-tiang seperti itu pada desain awal, karena pada waktu lalu dipaparkan pada Komisi II kelihatannya begitu bagus sehingga kita menyetujui, 60 miliar 500 juta yang akan dikerjakan secara bertahap yakni 3 tahun,” tambahnya.

    Ketua Komisi II DPRD Sulut, Cindy Wurangian

    Wurangian juga menambahkan bahwa sudah selesainya tahap demi tahap dengan dana 60 miliar 500 juta yang juga ada proporsinya kabupaten dan kota.

    “Nah, kami (Anggota DPRD) berkunjung ke sana beberapa waktu lalu, yang seharusnya bangunan ini masih baru, kenapa kok kualitasnya seperti itu? Ada banyak foto-foto, lantai yang baru jadi kelihatan bangunannya sudah berabad-abad padahal baru jadi, begitu juga dengan atap yang bocor dan bahkan atapnya sudah jatuh, jadi banyak sekali sarana yang dibangun disana yang harusnya masih baru tapi kelihatannya sudah seperti bangunan yang sangat tua. Pengawasannya seperti apa? Apakah ini masuk di badan penghubung juga atau mungkin tidak masuk dirananya badan penghubung, mohon dijelaskan?,” tanya Cindy.

    Menanggapi pertanyaan dari Politisi Golkar itu, Kaban Penghubung mengatakan terkait perubahan desain, jadi dari badan penghubung, PU dan Inspektorat melakukan review dengan upaya penghematan anggaran sehingga jika dilihat dari struktur dari tiang-tiang tersebut masih bisa di sesuaikan akhirnya disesuaikan sehingga dari penyesuaian-penyesuaian itu didapati bangunan yang baru.

    “Contohnya, diawal desain cuma 2 rumah ada sekarang menjadi 3 rumah adat. Dan untuk tiang-tiang, sebenarnya besaran tiang-tiang itu sudah diperkecil, sehingga ada penghematan anggaran,” kata Kaban.

    Sampai berita ini dimuat, tidak ada penjelasan dari Kaban Penghubung perihal adakah persetujuan Setneg atas perubahan desain dari pembangunan Anjungan Sulut di TMII.

    (ABL)

  • WURANGIAN Dorong Pemerintah Sediakan Layanan Bantuan Untuk Orang Stres

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam rapat Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur Sulut tahun 2020, Jumat (23/4), di ruang rapat paripurna DPRD Sulut.

    Anggota DPRD Sulut, Cindy Wurangian mendorong pemerintah memberikan bantuan layanan orang stres.

    Hal itu didorong sebagai upaya menekan angka bunuh diri akibat orang terkena stres.

    “Saat ini saya akan ingin membawa perhatian kita kepada satu isu yaitu layanan bantuan kepada orang yang stres atau namanya hotline konseling psikologi. Ternyata di Sulut banyak kasus yang tidak terdeteksi yang mengakibatkan warga masyarakat, baik tua, muda, pria, wanita, kaya, miskin, bunuh diri. Apakah ini menjadi perhatian atau ada program di Dinkes (Dinas Kesehatan) untuk menangani hal-hal seperti ini,” kata politisi Partai Golkar ini.

    Menurutnya, keterlibatan atau kepedulian pemerintah Sulut melalui dinas terkait tentang kesehatan mental harus digaungkan.

    “Karena kalau orang sudah stres ingin bunuh diri, dia akan coba bicara dengan keluarga. Kalau keluarganya tidak tanggapi, dia berbicara dengan temannya. Kalau temannya tidak tanggapi, dia tidak tahu ke mana, akhirnya dia gantung diri, minum baygon dan sebagainya. Ini perlu diintervensi,” tutur anggota dewan provisi (Deprov) daerah pemilihan (Dapil) Bitung-Minut ini.

    Ia membeberkan, kasus seperti ini ada dan banyak terjadi. Ia pun berharap sudah ada program dan kegiatan dari Dinkes.

    “Dinkes harus memperhatikan isu-isu seperti ini, apalagi dalam masa Covid-19 secara finansial orang-orang yang mengalami permasalahan ada. Ini perlu menjadi perhatian dari Dinkes dan saya harapkan isu-isu seperti ini harus disentuh,” bebernya.

    Ia mengatakan, kalau Dinkes sudah melaksanakan hal tersebut, diminta untuk diberikan data.

    “Servis seperti apa yang diberikan Dinkes, apakah ada layanan telepon yang bisa dihubungi oleh orang-orang yang membutuhkan bantuan,” katanya.

    Lebih lanjut, dirinya meminta Dinkes untuk membuat program olah raga yang berkaitan dengan kesehatan.

    “Berhubungan dengan kesehatan mungkin juga dalam olah raga, karena saya praktisi yoga, di Sulut sudah marak. Saya tidak minta anggaran atau apa pun, minimal dari Dinkes sudah mulai promosikan kegiatan yoga menjadi salah satu opsi bagi masyarakat Sulut untuk kesehatan fisik atau kesehatan mental,” lanjutnya.

    Menurutnya, untuk proses realisasi, Aparatur Sipil Negara (ASN) diberikan pelatihan gratis satu minggu satu kali atau sesuai kreasi dari Dinkes.

    “Tolong dari Dinkes mengangkat yoga menjadi salah satu opsi untuk masyarakat Sulut menjaga kesehatan fisik dan mental,” tandasnya.

    (ABL)

  • Komisaris Dan Direksi BSG Baru, WURANGIAN: Kami Menanti Kerja Nyata

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa (LB), Bank Sulut Gorontalo (BSG) yang digelar pada Kamis (18/3/2020) kemarin, disalah satu hotel di Tondano Selatan Kabupaten Minahasa, menghadirkan pengurus yang baru.

    Dimana telah terjadi perubahan dalam struktur komisaris dan Direksi BSG.

    Berikut pengurus Periode 2021 – 2025:

    Komisaris Utama :
    EDWIN SILANGEN

    Komisaris Independen :
    MARHANI PUA

    Komisaris :
    MAX KEMBUAN
    BUCHARI MOKOAGOW
    FEDRIANTO KUNIYO

    Direktur Utama :
    REVINO PEPAH

    Direktur Pemasaran :
    MACHMUD TURUIS

    Direktur Umum :
    JOUBERT DONDOKAMBEY

    Direktur Operasional :
    LOUISA PARENGKUAN

    Direktur Kepatuhan :
    PIUS BATARA.

    Menanggapi hal itu, Ketua Komisi II DPRD Sulut Cindy Wurangian yang juga adalah mitra kerja BSG mengucapkan selamat atas terpilihnya dewan direksi dan Komisaris Bank SulutGo.

    “Congratulations. Kami menanti kerja nyata membawa BSGo semakin profesional dan kontribusi real untuk masyarakat Sulut,” ucap Politisi Partai Golkar Dapil Minut-Bitung, Jumat (19/3) melalui pesan WhatsApp.

    (ABL)

  • Kunjungi Gudang Benih Jagung JH37, Wurangian: Pemerintah Wajib Tunjang Poktan Ini

    test.petasulut.com/, SULUT – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melakukan kunjungan kerja di Gudang Prosesing Benih Jagung JH37 di Desa Suwaan Minahasa Utara (Minut), Selasa (9/3).

    Maksud Kunker tersebut guna meninjau prosesing dan pendistribusian benih jagung.

    Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Sulut, Cindy Wurangian mengatakan, dalam kunjungan kerja (Kunker) Komisi II DPRD Sulut itu, didapati ada Kelompok Tani (Poktan) lokal sudah bergerak dan mendistribusikan ratusan ton benih jagung.

    “Kami dapati dari kunker tersebut ada kelompok tani lokal, yakni Kelompok Tani Anugerah, yang sudah beberapa tahun bergerak di bidang proses benih jagung dan sudah mendistribusikan ratusan ton benih yang ada di Sulut, maupun ke kabupaten kota,” kata Srikandi Partai Golongan Karya (Golkar) Sulut ini.

    Menurutnya, hal seperti ini harus mendapatkan tunjangan lebih dari APBN dan APBD untuk menambah fasilitas yang mereka butuhkan.

    “Kami melihat dukungan dari Dinas Pertanian Provinsi Sulut, maupun dari Dinas Pertanian Minut sudah maksimal. Kedepannya perlu tetap diperhatikan agar kesinambungan dari kerja yang dilakukan oleh kelompok tani ini bisa terus berlangsung dan skalanya menjadi besar,” ungkap legislator daerah pemilihan (Dapil) Bitung-Minut ini.

    “Kunjungan tadi juga didampingi dari pihak produsen pupuk. Kita melihat harus ada sinergitas atau kolaborasi lebih holistik antara pupuk dan benih sehingga apa yang mereka hasilkan dan nanti dijual ke masyarakat yang ingin bertani jagung, kwalitasnya bisa lebih,” tandasnya.

    Hadir dalam kunjungan itu, Koordinator Komisi II Victor Mailangkay, Anggota Komisi II Syenny Kalangi serta Kadis Pertanian Sulut Novly Wowiling.

    (ABL)

  • Harga Cabe Rawit Melonjak, WURANGIAN: Ini Masalah Klasik

    test.petasulut.com/, SULUT – Lonjakan harga Cabe Rawit saat ini menyentuh harga Rp.100 ribu per kilogram

    Kenaikan harga ini pun dinilai menjadi tolak ukur kinerja dinas terkait, termasuk Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut dan asisten yang membidangi.

    Mengenai hal itu, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Cindy Wurangian pun angkat bicara.

    Kepada wartawan, Srikandi Partai Golongan Karya (Golkar) ini mengatakan, kenaikan harga cabai rawit merupakan masalah klasik yang selalu terjadi.

    “Masalah klasik yang selalu terjadi, tapi sampai sekarang tetap terjadi tanpa ada solusi yang nyata. Seharusnya ini salah satu tolok ukur penilaian kinerja dinas-dinas terkait, termasuk asisten yang membidangi,” kata Wurangian, Jumat (5/3).

    Ia menambahkan, untuk pemanggilan dinas terkait masih dikomunikasikan oleh Komisi II DPRD Sulut.

    “Masih dikomunikasikan,” singkatnya.

    Terpisah, salah satu pedagang di pasar tradisional mengatakan, harga cabai rawit memang mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan menyentuh harga Rp 100 ribu per kilogram.

    “Harga rica (cabai) sekarang memang naik, kalah-kalah harga cengkih. Biasanya banyak pedagang rica di pasar ini mar sekarang so jadi kurang. Harga rica sekarang sampai Rp 100 ribu per kilogram. Ini juga berakibat kurang pembeli,” ungkap si pedagang.

    Saat berita ini diturunkan harga cabai cenderung turun dikisaran harga 60 ribu rupiah/kg.

    (ABL)