Tag: 2021

  • DPRD Sulut Gelar Paripurna Mendengarkan Pidato Presiden RI

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam rangka memperingati HUT ke-76 Proklamasi Republik Indonesia, DPRD Provinsi Sulawesi Utara menggelar dua kali rapat paripurna sekaligus.

    Yakni agenda mendengarkan pidato Presiden pada sidang tahunan MPR RI serta pidato Presiden RI dalam rangka penyampaian RUU APBN 2022 dan nota keuangan, Senin (16/8) pagi.

    Agenda rapat ini tetap mengedepankan protokol kesehatan secara ketat guna meminimalisir penyebaran covid-19.

    Paripurna ini dipimpin Ketua DPRD Sulut dr Fransiscus Silangen, didampingi Wakil Ketua Victor Mailangkay dan Billy Lombok serta dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Steven Kandouw.

    Usai membuka rapat paripurna, ketua DPRD mengarahkan ke siaran langsung melalui media elektronik ke sidang paripurna yang sedang berlangsung di Senayan, Jakarta.

    Diketahui, sejumlah poin disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato pada sidang tahunan MPR RI, diantaranya Presiden Jokowi mengakui kesadaran, partisipasi dan gotong royong masyarakat dinilai semakin baik di bidang kesehatan.

    Presiden juga mengapresiasi lembaga pemerintah lintas sektor yang membuat kapasitas kesehatan meningkat pesat.

    Kemudian, Jokowi menilai kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan di semakin tinggi. Dilihat dari kebiasaan mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

    Kemudian mengenai vaksinasi, Jokowi mengatakan antusiasme masyarakat sangat tinggi. Menurutnya pandemi ini telah menguatkan institusi sosial di masyarakat.

    Selanjutnya, presiden mengatakan Kerja sama antarlembaga serta kepemimpinan responsif dan konsolidatif menjadi kunci dalam menangani pandemi.

    Di samping itu, presiden berterimakasih pada lembaga legislatif dan pemeriksa memberikan dukungan kepada pemerintah untuk cepat mengkonsolidasikan kekuatan fiskal. Bahkan TNI/Polri terus mendisiplinkan protokol kesehatan, 3T, vaksinasi serta isolasi terpusat.

    Rapat paripurna DPRD Sulut itu juga dihadiri Anggota DPRD Sulut, Forkopimda Sulut, Sekprov Sulut Edwin Silangen dan Sekwan Glady Kawatu serta undangan lainnya yang hadir melalui fisik dan virtual.

    (ADVETORIAL)

  • Bu Winsu Berpulang, WALUKOW: Beliau Sosok Yang Patut Diteladani

    test.petasulut.com/, SULUT – Sulawesi Utara kembali dirundung duka. Salah satu tokoh terbaik asal Nusa Utara, Winsulangi Salindeho dikabarkan telah berpulang.

    Anggota DPRD Sulut, Winsulangi Salindeho meninggal dunia pada minggu (15/8) setelah sempat dirawat di RS Hermina Manado.

    Duka mendalam pun dirasakan para legislator Sulut sepeninggalan mantan Bupati Sangihe itu.

    Salah satunya rekan kerja komisi I Bu Winsu yakni Henry Walukow. Dimana dirinya mengaku kaget mendengar kabar tersebut.

    Anggota DPRD Sulut, Henry Walukow

    Di mata politisi partai Demokrat ini “Bu Winsu” panggilan akrab Winsulangi Salindeho adalah sosok yang patut diteladani.

    “Bu Winsu” adalah sosok senior yang penuh keteladanan, disiplin, tepat waktu, suka berbagi ilmu penuh pengalaman namun tetap suka memberi nasehat dan memiliki rasa humoris yang tinggi, “ujar Henry Walukouw.

    “Sebagai rekan kerja di Komisi 1 kami semua sangat kehilangan sosok yang mampu berkontribusi dan memberi warna dalam tugas pekerjaan dan pelayanan,” tegas Walukouw saat dihubungi via Whatsapp.

    Sebagai Informasi, sebelum meninggal Winsulangi Salindeho selain sebagai eksekutif dan legislator beliau juga adalah pelayan gereja yang pernah memangku jabatan jabatan strategis.

    Berikut Jabatan strategis yang pernah di jabat beliau.

    -Mantan Sekkot Manado,
    -Mantan Wabup Sangihe,
    -Mantan Bupati Sangihe,
    -Mantan Anggota BPMS GMIM, anggota DPRD Sulut Periode 2019-2024.
    -Beliau juga adalah Ketua Panitia Pembentukan Provinsi Nusa Utara dan
    -Tokoh pendiri Kabupaten Kepulauan Sitaro serta Perintis Pendirian Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar).

    Selamat Jalan “Bu Winsu” Rakyat Sulawesi Utara akan selalu Mengenangmu.

    (ABL)

  • Sedih Sekali, MJP: Selamat jalan Senior Panutan, Winsulangi Salindeho

    test.petasulut.com/, SULUT – Kabar berpulangnya legislator DPRD Sulut sekaligus tokoh nusa utara Winsulangi Salindeho membuat sebagian masyarakat merasa kehilangan.

    Bagaimana tidak, Bu Winsu adalah salah satu tokoh yang mempunyai peranan penting dalam membangun daerah Sulawesi Utara.

    Salah satu legislator DPRD Sulut dan juga partner di BAPEMPERDA DPRD Sulut, Melky Pangemanan pun mengaku sangat sedih mendengar kabar berpulangnya Winsulangi Salindeho.

    “Kaget dan rasa belum percaya ketika mendapatkan informasi bahwa Pak Winsulangi telah meninggal. Sosok yang sangat saya segani karena kedisiplinan, kerendahan hati dan kecintaannya terhadap keluarga,” ungkap MJP.

    MJP juga menceritakan hubungan kerja bersama Bu Winsu semasa hidup.

    Sejak saya dipercayakan menjadi Wakil Ketua BAPEMPERDA DPRD Provinsi Sulawesi Utara mendampingi Pak Winsu sebagai Ketua BAPEMPERDA, hubungan kami menjadi semakin dekat karena sering berkomunikasi terkait tugas di DPRD bahkan tak jarang kami berdiskusi diluar kerja kedewanan, urusan keluarga dan pengalaman beliau yang telah malang melintang sebagai seorang birokrat dan politisi senior. Pernah mengemban tugas sebagai Sekretaris Daerah Kota Manado, Wakil Bupati dan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe. Di bidang keagamaan, pernah dipercayakan menjadi Anggota Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM.

    Pada Rabu 28 Juli 2021, saya dipercayakan menjadi Wakil Ketua Pansus Ranperda tentang Pelindungan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas, dengan kembali mendampingi Pak Winsu sebagai Ketua Pansus.

    Dibawah kepemimpinan pak Winsu sebagai Ketua BAPEMPERDA dan Ketua DPRD Pak Fransiscus A. Silangen, kami bisa menghasilkan suatu produk hukum daerah, setelah kurang lebih 7 tahun DPRD Sulawesi Utara tidak melahirkan Peraturan Daerah (Perda) yang diinisiasi oleh DPRD Sulawesi Utara.

    Kami berdua memang sering “Duet” dalam mengerjakan berbagai tanggung jawab legislasi. Saya belajar banyak dari beliau, sungguh pelajaran yang sangat berharga bisa bekerja sama dengan Pak Winsu. Pak Winsu selalu memberi kesempatan kepada saya untuk belajar.

    Pak Winsu sudah saya anggap sebagai orang tua dan menjadi role model bagi saya sebagai seorang politisi. Di usia yang tidak muda lagi, Pak Winsu masih tetap semangat dan rajin menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara.

    Beberapa waktu lalu selesai rapat, Pak Winsu berdiskusi panjang dengan saya dan rekan Aleg Ronald Sampel. Beliau mengutip ayat Alkitab dalam Amsal 30:7-9. “Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kau tolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

    Ayat tersebut menjadi Doanya kepada Tuhan, agar terus dimampukan dalam bekerja untuk masyarakat dan daerah. Pak Winsu sungguh sangat menginspirasi saya dan rekan-rekan di DPRD Sulawesi Utara dengan keteladanannya serta etos kerjanya yang tinggi dalam pengabdian sebagai wakil rakyat.

    Saya dan keluarga merasa sangat kehilangan sosok Pak Winsu. Tidak akan ada lagi suara melalui telepon yang diawali dengan ucapan “Halo anak muda,.,..” dari beliau. Beberapa hari lalu Pak Winsu menghubungi saya dan bahkan sempat berbincang dengan Istri Pendeta Meiva. Pak Winsu bilang “So rindu karena jarang baku-baku dapa dikantor ini anak muda, kong kase bacerita deng Pendeta Meiva. Pendeta Meiva bilang, cocok sekali kerja sama Pak Winsu dengan Pak Melky, Pak Winsu sering cerita”. Jujur saya terharu, kedua sosok suami istri ini adalah figur publik yang banyak dipercayakan mengemban ananah besar di daerah ini.

    Masih banyak tanggung jawab yang harusnya kami kerjakan bersama kedepan namun Tuhan memiliki otoritas tunggal untuk memanggil pulang milik kepunyaanNya yang telah memberi diri melayani rakyat.

    Mengenang Pak Winsu dan menulis cerita bersamanya membuat saya sedih. Ada banyak keteladanan darinya yang saya pelajari. Pak Winsu telah meninggalkan kita semua di dunia, namun semangatnya, kedisiplinan, tanggung jawab dan kerendahan hatinya akan selalu kami kenang.

    Beristirahatlah dalam damai Kristus, Pak Winsu. Selesai sudah tugas yang telah engkau emban di dunia ini. Tuhan memberi penghiburan sejati bagi Keluarga Salindeho-Lintang (Pendeta Meiva, Christin, Christian dan Junior).

    #RIPPakWinsu

    (ABL)

  • ANDI SILANGEN: Selamat Beristirahat Dari Jerih Lelahmu ‘Bu WINSULANGI SALINDEHO’

    test.petasulut.com/, SULUT – Kabar dukacita kembali menyelimuti masyarakat Sulawesi Utara, dimana Anggota DPRD Sulut dari Fraksi Partai Golkar, Winsulangi Salindeho dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (15/08/2021) hari ini.

    Berbagai ungkapan dukacita pun diberikan kepada tokoh nusa utara tersebut yang dikenal humoris dan pekerja keras itu.

    Terlebih ungkapan dukacita disampaikan ketua DPRD Sulut, Fransiskus Andi Silangen.

    Melalui akun Facebooknya, Silangen mengungkapkan selamat beristirahat dari jerih lelahmu ‘Bu WINSULANGI SALINDEHO’. Untuk Keluarga yang ditinggalkan, TUHAN YESUS memberkati.

    “Shalom. Yohanes 14:1-2 (TB) Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu,” tulis Silangen.

    Diketahui, Bu Winsulangi Salindeho selama duduk sebagai Anggota DPRD Sulut dan yang juga adalah ketua BAPEMPERDA Sulut, selalu fokus memperjuangkan aspirasi masyarakat.

    Fungsi legislasi pun dikerjakan dengan serius, dimana pada tahun ini DPRD Sulut telah melahirkan sejumlah Perda prakarsa DPRD dan yang sementara bergulir sejumlah Ranperda.

    (ABL)

  • Kawal Keluhan Warga Soal Pelayanan Kesehatan, Komisi IV Bentuk Timsus

    test.petasulut.com/, SULUT – Dimasa Pandemi Covid-19 yang sampai detik ini terus menggerogoti daerah Sulawesi Utara, berbagai keluhan masyarakat terus diutarakan, salah satunya mengenai pelayanan kesehatan.

    Dimana pada beberapa pekan belakangan muncul keluhan-keluhan warga akan pelayanan kesehatan rumah sakit yang sempat viral di media sosial.

    Baru-baru ini pula, Komisi IV DPRD Sulut menerima laporan salah satu keluarga pasien yang mengadu terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit.

    Langkah cepat pun dilakukan Komisi IV dengan langsung memanggil pihak RS Walanda Maramis dan Kandou untuk meminta penjelasan terkait keluhan tersebut.

    Rapat dengan pihak RS tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu, didampingi Wakil Ketua Careig N. Runtu, serta dihadiri Koordinator Komisi IV Billy Lombok SH, anggota Melky Pangemanan, Yusra Alhabsyi dan Hilman Idrus.

    Pada pertemuan itu, pihak rumah sakit maupun pihak keluarga korban (Ibu hamil yang meninggal) melalui juru bicara menyampaikan penjelasan.

    Rapat yang berjalan kurang lebih 4 jam itu membuat Komisi IV DPRD Sulut mengeluarkan beberapa kesimpulan, salah satunya adalah akan membentuk tim khusus atas keluhan pelayanan rumah sakit, agar lebih detail dan bisa fokus.

    Selain itu juga, Komisi IV juga menyatakan siap mengawal dan memperjuangkan insentif nakes, sehingga pelayanan akan semakin baik.

    “Permasalahan-permasalahan yang terjadi dibeberapa rumah sakit di Sulut, termasuk di rumah sakit Prof Kandou kita akan mengusulkan untuk membuat tim khusus, supaya segala sesuatu permasalahan bisa berkembang disitu,” tegas Ketua Komisi IV Braien Waworuntu, (12/8).

    “Dan terkait dengan tunjangan dari nakes kita tentunya akan memperjuangkan. Tahun tahun sebelumnya komisi IV telah memperjuangkan insentif dari para dokter LPDS, dan itu disalurkan langsung oleh menkes. dan kita terus akan mengawal supaya COVID-19 di Sulut menurun. kita sama-sama berdoa,” tandasnya.

    Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Careig Runtu juga mengatakan tim khusus komisi IV ini akan mengawal pelayanan kesehatan di seluruh rumah sakit yang berada di Sulut.

    “Bukan cuma di Kandou atau Walanda Maramis, Timsus ini akan mengawal pelayanan kesehatan di seluruh RS di Sulut, semoga kedepannya tidak terjadi lagi keluhan-keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan,” tutup CNR.

    (ABL)

  • BRAIEN: Siapapun Dia, Semua Mempunyai Hak Yang Sama Peroleh Fasilitas Kesehatan

    test.petasulut.com/, SULUT – Diketahui, baru-baru ini Komisi IV DPRD Sulut segera menindaklanjuti keluhan-keluhan yang dialami dan dirasakan oleh masyarakat Sulawesi Utara terhadap pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dengan menggelar RDP bersama Rumah Sakit Walanda Maramis dan RSUP Prof. R.D Kandou Malalayang, Kamis (12/8) kemarin.

    Pada kesempatan itu, Komisi IV DPRD Sulut pun mendengar langsung keluhan yang dialami salah satu keluarga ibu hamil yang meninggal, disertai juga penjelasan dari kedua pihak rumah sakit.

    Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Braien Waworuntu mengambil hal positif dan pelajaran berharga dari kasus yang terjadi itu.

    “Duka mereka menjadi duka saya juga, Saya tidak ingin kejadian seperti itu terulang kembali kepada masyarakat Sulut, siapapun dia dan latarbelakang apapun dia. Semua mempunyai hak yang sama untuk memperoleh fasilitas kesehatan sebagai warga Negara Indonesia sesuai amanat pasal 28 Ayat 1 UUD 1945” tutur Politisi Partai NasDem Sulut itu.

    Dalam kondisi dan situasi pandemi Covid-19 saat ini, lanjut Braien Waworuntu bahwa kita tetap dukung dan doakan saudara-saudara kita dan sahabat-sahabat kita Tenaga Kesehatan yang berjuang dan menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi ini.

    “Semoga tetap diberikan kesehatan dan kekuatan untuk tetap profesional dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” kata Aleg Dapil Minahasa-Tomohon itu.

    “BW Bersama Rakyat! BW Bersama NaKes! God bless Indonesia, God Bless North Sulawesi! Salam sehat,” tambahnya.

    (ABL)

  • SAMPEL: Perlu Ada Peningkatan Jaringan Internet Dan Listrik di Kepulauan

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam rumusan Pansus RPJMD Provinsi Sulut tahun 2021-2026, yang baru-baru ini telah disahkan melalui rapat paripurna DPRD Sulut, terdapat salah satu poin penting yang nantinya akan menjadi tujuan pembangunan pemerintah provinsi Sulut yakni terkait pemerataan pembangunan Jaringan Listrik dan Jaringan Internet di daerah kepulauan.

    Mengenai poin tersebut Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara Ronald Sampel memberikan tanggapannya bahwa poin itu sangat baik.

    Sampel mengatakan bahwa untuk pemerataan pembangunan khusus Jaringan Internet dan Listrik di daerah kepulauan seperti di Kabupaten Sangihe sudah berjalan dan tinggal beberapa pulau terluar saja yang perlu dibangun.

    “Untuk pemerataan pembangunan di daerah kepulauan khususnya pembangunan jaringan internet dan Listrik, memang untuk kondisi sekarang sudah hampir sebagian besar sudah ada jaringan. Cuma untuk daerah-daerah tertentu seperti pulau terluar ada juga jaringannya sudah masuk, diambil dari tower terdekat di pulau besar misalnya. Tapi memang juga ada pulau tertentu yang belum ada jaringan sama sekali, jadi kalau kita melihat kondisi sekarang. Untuk jaringan internet itu sudah ada,” Tutur Sampel saat ditemui awak media diruang kerjanya di kantor DPRD Sulut, Kamis (12/8).

    Dia juga menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi kendala saat ini untuk warga kepulauan, menurutnya karena sekarang sedang dalam kondisi pandemi covid-19, sehingga banyak sekolah-sekolah yang beralih ke proses belajar mengajar secara daring. Oleh karena itu meningkatlah jumlah pengguna jaringan internet, sehingga kapasitas jaringan yang sebenarnya hanya kecil namun digunakan oleh banyak pengguna sehingga dia menjadi lemot akses jaringannya karena kapasitas jaringan tidak memadai atau tidak sepadan dengan pengguna.

    “Yang menjadi kendala sekarang di Kabupaten Kepulauan Sangihe itu, Jaringan yang ada itu mungkin kapasitasnya sudah tidak cukup, Sehingga mengakibatkan begitu banyak gangguan-gangguan yang terjadi. Itukan sangat merugikan anak-anak kita yang sedang sekolah secara daring. Apalagi kondisi jaringan yang seperti itu, maka sebenarnya untuk Jaringan sudah ada, tapi lebih tepatnya tinggal ditingkatkan lagi kapasitasnya, agar supaya kualitas jaringan itu dapat diperbaiki lagi,” Jelas Politisi Dapil Nusa Utara itu.

    Oleh karena itu saya juga berharap kepada stakeholder yang terkait agar sekiranya dapat meningkatkan kualitas jaringan tersebut. Karena memang banyak keluhan terkait jaringan Internet tersebut khususnya bagi mereka anak didik.

    Kemudian khusus Listrik, Ronald Sampel mengatakan, karena daerah kepulauan seperti di Sangihe yang terdiri dari seratus lebih pulau kecil. Maka ada kendala untuk pulau-pulau kecil, tapi sejauh ini sebagian besar juga sudah menggunakan Solar cell untuk menunjang Listrik di daerah pulau kecil. Lalu untuk Pulau besar sejauh ini sudah ada pelayanan Listrik.

    Lalu untuk solusi lainnya dari Pemerintah daerah, Ronal Sampel katakan akan koordinasi dengan komisi terkait mengenai kewenangan dalam hal ini soal Jaringan Internet dan Pelayanan Listrik supaya bisa ditingkatkan kedepan.

    “Kita akan bicarakan dengan stakeholder terkait, mungkin ada solusi-solusi terbaik lainnya.” Tandas Rosa sapaan akrabnya.

    Mengenai tupoksinya masuk di komisi III atau tidak, Rosa sebut akan koordinasikan hal itu. Karena mengenai daerah kepulauan itu memang banyak kendala.

    “Kalau saran dari saya pribadi lebih ditingkatkan lagi Pertama untuk Jaringan Internet, lalu ditingkatkan lagi pelayanan Listrik di daerah kepulauan,” tutup Sampel.

    (ABL)

  • Ini Penjelasan RS Walanda Dan Kandou Soal Pasien Ibu Hamil Yang Meninggal Terkonfirmasi Positif Covid

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi IV DPRD Sulut, Pihak Rumah Sakit Walanda Maramis Dan RS Kandou serta Keluarga pasien ibu hamil yang meninggal yang digelar pada kamis (12/8), Pihak RS Walanda dan Kandou memberikan penjelasan resmi terkait kronologi pelayanan kesehatan terhadap pasien ibu hamil.

    Dihadapan Komisi IV, Pihak RS Walanda Maramis mengakui bahwa ada salah ucap dari petugas soal hasil swab antigen.

    “Yang sebetulnya dikatakan Positif, tapi petugas kami mengatakan reaktif. Kalau reaktif itu adalah pemeriksaan antibodi. Kami mohon maaf atas kesalahan itu,” mohonnya.

    Pihak RS Walanda juga menuturkan untuk rujukan pasien dari RS walanda ke Kandou tidak serta merta untuk segera dirujuk. Karena kementerian kesehatan telah mengeluarkan aktivasi yang namanya sisrute. Sisrute ini harus kita isi guna merujuk pasien, setelah itu kita melihat apa-apa yang harus disediakan untuk kita merujuk pasien.

    “Jadi kenapa pasien datang jam 11 lebih itu, dan dirujuk pada jam 16.30. jadi kita tidak bisa merujuk pasien tanpa ada pemeriksaan sebelumnya. Selanjutnya, kenapa swab antigen oleh pasien dilakukan setelah infus, karena sesuai penglihatan petugas jaga pada saat itu, harus di infus terlebih dahulu baru dilakukan swab antigen. Itu dilakukan secara pararel,” jelas pihak RS Walanda maramis.

    Terkait kenapa tidak dilakukannya operasi, dirinya menjelaskan pada waktu bersamaan sebagian dokter anastesi beserta perawat sedang isoman, hingga kita memang kekurangan petugas dan tidak bisa bekerja maksimal.

    “Jadi kita tidak bisa melakukan operasi karena kekurangan tenaga medis. Dan untuk diketahui bersama, tindakan rujukan pasien itu, kita sudah mengatakan ke rs kandou penerima rujukan untuk apa-apa yang harus dilakukan terhadap pasien,” katanya.

    Pihak RS Walanda juga menuturkan bahwa sebelum pasien datang ke RS, pasien ibu hamil itu sudah mengalami pecah ketuban 1 hari sebelumnya.

    “Sehingga dimungkinkan terjadi infeksi. Karena dibuktikan dengan warna ketuban yang sudah kehijauan,” tuturnya.

    “Terkait dengan kenapa keluarga pasien ikut naik ke ambulance, harusnya tidak. Tapi karena di rs rujukan harus ada keluarga pasien, terpaksa naik sama-sama di ambulance. Dan untuk keluhan keluarga pasien terkait tidak adanya surat-surat yang keluar dari RS Walanda untuk keluarga pasien, saya mengatakan bahwa memang tidak ada karena hanya dikeluarkan surat untuk rs rujukan yakni rs kandou yang didalamnya surat itu berisi pemeriksaan, obat-obatan dan semua kondisi pasien itu,” tambahnya lagi.

    Soal kondisi janin pada saat datang ke RS Walanda Maramis, pihaknya mengatakan telah melakukan pemeriksaan untuk melihat kesejahteraan bayi didalam kandungan, pada saat pasien datang kondisi janin masih dalam keadaan hidup.

    “Saya melihat ada indikasi yang kurang baik pada janin sehingga saya memutuskan untuk merujuk pasien itu karena harus melakukan tindakan segera” tutupnya.

    Pada kesempatan itu pula, pihak RS kandou melalui Hanri Takasenserang membenarkan bahwa memang telah masuk pasien ini melalui sistim rujukan terpadu (sisrute).

    “Pasien tiba di kandou pada jam 17.10 WITA. Saat itu kami sudah tahu kondisi pasien seperti apa, terutama swab antigen terkonfirmasi positif. Jadi sesuai aturan yang ada, pasien itu tidak bisa diruangan yang sama dengan pasien yg tidak terkonfirmasi positif. Ruang isolasi di IGD diatur tersendiri dan ada alur alurnya. Dan untuk pasien ibu hamil yang melahirkan, kita ada ruangan khusus untuk itu. Dan untuk penempatan pasien ini, kami sudah menjelaskannya kepada keluarga pasien. Setelah masuk, langsung ditangani bidang dan dokter jaga. Untuk diketahui, bunyi jantung janin pada saat itu sudah tidak ada,” jelas Hanri.

    Keluhan mengenai AC, Hanri mengatakan bahwa memang AC-nya pada saat itu lagi rusak, petugas yang memakai APD lengkap pun bekerja basah kuyub, tapi mengenai itu dirinya sudah melapor ke pimpinan dan langsung ditangani.

    Secara teknis, Dokter Joice Sondakh, spesialis kebidanan kandungan mengatakan pada waktu itu bertugas sebagai dokter penanggung jawab.

    “Pada saat itu, waktu dicari bunyi jantung anak sudah tidak ada. Pada waktu itu juga ibu hamil itu menolak untuk dilakukan pemeriksaan, tapi pada akhirnya setelah bernegosiasi deng keluarga pasien sehingga pasien mau untuk diperiksa, itu berlansung kurang lebih dua jam. Dari pasien datang jam 5 sore dan mau diperiksa jam 7 malam. Setelah itu petugas melakukan USG dan lainnya dan bisa dibenarkan bahwa memang bunyi jantung anak itu sudah tidak ada, bayinya sudah tidak bergerak dan itu ada dokumentasinya,” jelasnya.

    Kemudian, lanjutnya merujuk dari hasil itu dirinya mengatakan bahwa akan menunggu lahir spontan, tapi karena ini ruang isolasi kita tidak harus menunggu-nunggu lagi. Jadi dirinya mengatakan kepada keluarga akan dilakukan rangsang dan keluarga pasien setuju untuk pasien dirangsang setelah menerima laporan kondisi pasien.

    “Nah, setelah itu baru pasien diberi makan. Sekitar jam 10 malam kami melakukan induksi perangsangan dan kemajuannya ada. Jam 5.40 subuh, posisinya sudah siap untuk lahir, jam 6.15 kemudian bayi lahir. Lahirnya perempuan, berat tiga kilo empat ratus dan memang sudah meninggal karena sudah lama pecah ketuban. Selanjutnya petugas melakukan pemeriksaan kepada pasien ibu itu. Melalui pemeriksaan laboratorium dan juga melalui pemeriksaan para dokter yang terkait, pasien itu sudah masuk covid berat, karena banyak faktor dan kami juga ada rekam medisnya,” tuturnya.

    Lanjutnya lagi, jam 7.51 ibu itu mulai gelisah dan sesak.

    “Kami langsung segera melakukan tindakan selanjutnya kami memasang oksigen. Pada jam 8.15 ibu itu sudah semakin sesak dan terjadi penurunan kesadaran. Kami konsul ke ICU Palma pada saat itu, Jam 10 ibu semakin memburuk, sesaknya semakin berat dan kami lakukan tindakan yang semakin mendalam yakni perawatan jantung paru-paru. Tapi jam 10.30 dinyatakan meninggal dengan gagal nafas oleh karena covid-19,” tutupnya.

    Sebelumnya, Pihak keluarga (Ibu Hamil yang meninggal) menjelaskan beberapa keluhan terkait pelayanan buruk rumah sakit.

    Bahkan pihak keluarga mengatakan saat pasien berada di ruang isolasi, adanya pembiaran oleh pihak rumah sakit sehingga pasien meninggal.

    “Kasihan keluarga kami sudah kondisi kritis karena covid namun tidak ditangani layaknya pasien yang membutuhkan perawatan cepat,” ungkap keluarga pasien dihadapan pihak RS Walanda Maramis dan Kandou.

    (ABL)

  • Keluhan Keluarga Pasien Ibu Hamil Yang Meninggal, Komisi IV Deprov ‘Semprot’ RS Walanda Dan Kandou

    test.petasulut.com/, SULUT – Terkait Keluhan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan yang dinilai buruk, Komisi IV DPRD Sulut memanggil Management rumah sakit Prof Kandou Malalayang Manado, Management rumah sakit Walanda Maramis Minahasa Utara dan Keluarga pasien Ibu Hamil yang meninggal covid 19, kamis (12/8).

    Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu didampingi Wakil Ketua Careig Runtu dan Anggota Komisi Melky Pangemanan, Yusra Alhabsyi, Hilman Idrus serta koordinator komisi IV Billy Lombok. Yang hadir virtual yakni Sekretaris Komisi IV Jems Tuuk.

    Pada kesempatan itu, Pihak keluarga (Ibu Hamil yang meninggal) menjelaskan beberapa keluhan terkait pelayanan buruk rumah sakit.

    Bahkan pihak keluarga mengatakan saat pasien berada di ruang isolasi, adanya pembiaran oleh pihak rumah sakit sehingga pasien meninggal.

    “Kasihan keluarga kami sudah kondisi kritis karena covid namun tidak ditangani layaknya pasien yang membutuhkan perawatan cepat,” ungkap keluarga pasien dihadapan pihak RS Walanda Maramis dan Kandou.

    Tak hanya itu, pihak keluarga juga menjelaskan meski pasien sudah dalam kondisi kritis, disaat masuk dalam ruangan isolasi rumah sakit prof kandou malalayang, tetapi tidak dilakukan tindakan medis cepat sebagaimana pasien biasa.

    “Sejak masuk ruangan isolasi, Mama seperti dibiarkan, meski sudah mengeluhkan Lapar dan juga kondisi ruangan yang panas bahkan juga meminta ganti baju karena kondisi basah akibat keringat itu tidak ditanggapi oleh petugas jaga. Karena tidak ada penanganan, kami keluarga bahkan sudah menawarkan jadi relawan agar dapat masuk membantu merawat Mama kami untuk melakukan sebagaimana yang diminta, itupun tidak diperkenankan,” jelas Nana keluarga pasien covid 19 yang meninggal.

    Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Braien Waworuntu

    Menanggapi hal itu, Ketua Komisi IV DPRD Sulut Braien Waworuntu menekankan bakal mempidanakan oknum yang melalaikan tugas dan tanggungjawabnya, padahal mereka sementara menjalankan tugas kemanusiaan karena membantu orang yang sakit dan yang terkonfirmasi positif covid 19.

    ” Kami tidak akan kompromi dengan oknum nakes yang melalaikan tanggungjawab kemanusiaan yang harusnya dilakukan, karena itu berdampak buruk dan merusak nama baik rumah sakit.” tegas Politisi NasDem itu.

    Dalam kasus ini, Braien mengatakan bahwa mendengar penjelasan dari pihak keluarga dan Pihak RS, bahwa pasien terjadi pembiaran sampai-sampai sudah 2×24 jam tapi belum ada penanganan.

    “Ini tak sesuai SOP dari rumah sakit. Segera benahi hal ini, karena setiap langkah rumah sakit menyangkut nyawa para pasien,” kata BW.

    Sementara itu Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut Careig Naichel Runtu (CNR) terkait adanya keluhan keluarga pasien meminta pihak rumah sakit dapat melakukan perbaikan pelayanan agar supaya pasien mendapatkan pelayanan yang optimal.

    ” Ini tidak hanya untuk rumah sakit prof Kandou dan Walanda Maramis tetapi untuk seluruh rumah sakit yang ada di wilayah Sulawesi Utara sehingga tidak ada lagi kasus sebagaimana yang dikeluhkan keluarga pasien.” tegas CNR.

    Disisi lain, Melky Pangemanan juga menegaskan dihadapan para pihak rumah sakit agar segera benahi cara penyampaian atau penjelasan terhadap keluarga pasien.

    “Karena kalau dokter menjelaskan memakai bahasa-bahasa medis kepada keluarga, kebanyakan masih awam pasti tidak mengerti, saya pun tidak akan mengerti. Untuk itu, rubah gaya penjelasan dokter kepada pasien atau keluarga. Intinya, bahasa-bahasa yang mudah di mengerti,” jelas MJP.

    (ABL)

  • Nick: Terpenting, RPJMD Menjadi Kompas Guna Pemulihan Ekonomi

    test.petasulut.com/, SULUT – Dalam Rapat Paripurna Pengambilan Keputusan terhadap Ranperda RPJMD Provinsi Sulawesi Utara tahun 2021-2026, Fraksi NasDem Sulut diketahui telah menerima RPJMD ini namun ada sejumlah catatan-catatan kritis untuk diperbaiki.

    “Catatan tersebut antara lain mengenai indeks lingkungan hidup, soal ketenagakerjaan lokal, hal ini mesti harus mendapat prioritas dalam RPJMD,” kata Ketua Fraksi NasDem, Nick Adicipta Lomban, SE kepada awak media usai mengikuti rapat paripurna DPRD Sulut, Selasa (10/8).

    Nick juga mengungkapkan yang terpenting saat ini RPJMD tersebut menjadi kompas dalam rangka pembangunan sulawesi utara kedepannya.

    ” Yang paling penting dalam catatan, RPJMD dapat menjadi kompas guna pemulihan ekonomi kedepan, selain itu kesehatan dan penanganan pandemi Covid 19 kedepan harus menjadi perioritas,” terang Personil Komisi II DPRD Sulut itu.

    Selain itu, Politisi Dapil Bitung-Minut ini juga menyoroti terkait masalah dirumah sakit, partai NasDem ikut peduli keadaan sejumlah rumah sakit di Sulut berkaitan penanganan covid yang mendapat komplain masyarakat.

    ” Kami ingin memperbaiki masalah penanganan covid di sejumlah rumah sakit, yang menjadi keluhan masyarakat, dan ini menjadi catatan Kami fraksi nasdem, bukan cuma itu kami juga ikut menyoroti soal insetif tenaga kerja kesehatan, selain itu terhadap komisi terkait partai NasDem menaruh perhatian,” tukasnya.

    Selanjutnya Nick juga mengapresiasi kepada Wakil Gubernur yang sudah menjawab hal itu.

    “Ini juga merupakan kolaborasi eksekutif dan legislatif untuk mengatasi permasalahan yang ada ditengah masyarakat secara cepat dan tepat,” tandasnya.

    (ABL)